<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031</id><updated>2011-11-15T05:15:30.281-08:00</updated><title type='text'>Sekedar Info</title><subtitle type='html'>Mencoba untuk berbagi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-8241694398437531402</id><published>2011-09-25T06:15:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T06:15:27.846-07:00</updated><title type='text'>Permendiknas No. 35 Tahun 2010 dan Lampirannya</title><content type='html'>Untuk melaksanakan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan Peraturan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara, Nomor 14 Tahun 2010 dan Nomor 03/V/PB/2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya,  tanggal 1 Desember 2010, Menteri Pendidikan Nasional telah menerbitkan Permendiknas No. 35 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permendiknas tersebut, akan diberlakukan mulai tanggal 1 Januari 2013. Dan mulai tanggal itulah akan diberlakukan suatu pola penghitungan angka kredit jabatan fungsional guru melalui Penilaian Kinerja (PK) Guru dan Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila memerlukan Permendiknas No. 35 Tahun 2010 dan Lampirannya, Anda dapat mengunduhnya dengan mengklik &lt;a href="http://www.4shared.com/file/Bej8StsV/Permendiknas_No_35_Tahun_2010_.html" target=_blank&gt;Permendiknas No. 35 Tahun 2010 &amp; Lampiran.rar&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat membantu para guru untuk mempersiapkan diri menghadapi pemberlakuan permendiknas tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-8241694398437531402?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/8241694398437531402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2011/09/permendiknas-no-35-tahun-2010-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/8241694398437531402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/8241694398437531402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2011/09/permendiknas-no-35-tahun-2010-dan.html' title='Permendiknas No. 35 Tahun 2010 dan Lampirannya'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-1490635922370922181</id><published>2011-06-07T01:37:00.000-07:00</published><updated>2011-06-07T01:37:59.804-07:00</updated><title type='text'>Pedoman Penulisan Ijazah Tahun 2011</title><content type='html'>Tahun pelajaran 2010/2011 akan segera berakhir. Di penghujung tahun pelajaran ini, pendidik dihadapkan pada berbagai aktivitas, misalnya pengisian ijazah. Terkait dengan aktivitas pengisian ijazah, pendidik memerlukan suatu pedoman yang baku dan mempermudah pelaksanaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, melalui tulisan singkat ini, Saya mencoba berbagi informasi khususnya terkait dengan penulisan ijazah. Informasi ini berupa "Pedoman Penulisan Ijazah Tahun Pelajaran 2010/2011".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila memerlukan informasi tersebut, Anda dapat mendownload secara langsung dengan cara mengklik &lt;a href="http://www.4shared.com/file/5kOuWm9c/Pedoman_Penulisan_Ijazah_SD_20.html" target=_blank&gt;Pedoman Penulisan Ijazah SD 2011.rar&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga informasi ini bermanfaat dan membantu pelaksanaan tugas yang diemban pendidik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-1490635922370922181?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.4shared.com/file/5kOuWm9c/Pedoman_Penulisan_Ijazah_SD_20.html' title='Pedoman Penulisan Ijazah Tahun 2011'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/1490635922370922181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2011/06/pedoman-penulisan-ijazah-tahun-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/1490635922370922181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/1490635922370922181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2011/06/pedoman-penulisan-ijazah-tahun-2011.html' title='Pedoman Penulisan Ijazah Tahun 2011'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-3101455875892283366</id><published>2011-03-18T03:44:00.000-07:00</published><updated>2011-03-18T03:44:35.540-07:00</updated><title type='text'>Keponakanku Disunat Makhluk Lain</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gPidd5By_5k/TYM2j6yLTiI/AAAAAAAAAB0/xPTZuzGLurw/s1600/Dedo%2BDisunat%2BMakhluk%2BLain.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="262" width="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-gPidd5By_5k/TYM2j6yLTiI/AAAAAAAAAB0/xPTZuzGLurw/s320/Dedo%2BDisunat%2BMakhluk%2BLain.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, betapa banyak bukti kebesaran Allah SWT yang telah diperlihatkan kepada kita selaku makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum’at, 18 Maret 2011, sekitar jam 13.00 WIB di sebuah kebun yang biasa dipergunakan anak-anak untuk bermain, telah ditunjukkan satu lagi bukti kebesaran Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, keponakanku yang biasa dipanggil Dedo sedang bermain sepak bola bersama kakaknya, Fikri, dan teman-teman sebayanya di kebun itu. Tiba-tiba, Dedo merasa ingin buang air kecil. Dan seperti biasa, ia segera kencing sambil menarik ujung penisnya, sehingga air kencing yang dikeluarkannya dapat menyemprot dalam jarak yang cukup jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tiba-tiba ia menjerit kesakitan sambil segera menarik celananya. Kakaknya, Fikri, segera menghampiri dan bertanya, “Kunaon?”. Dedo pun segera menunjukkan bahwa penisnya yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi penis adiknya, Fikri segera membawa Dedo ke rumah neneknya yang berada di Jalan Satari, dekat kebun tempat ia bersama adiknya bermain sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di rumah neneknya, Fikri menceritakan rasa sakit yang dialami Dedo kepada neneknya. Fikri mengatakan, “Si Dedo kaseured!” Mendengar hal itu, neneknya segera melumuri penis Dedo dengan lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat Dedo masih terus menangis, Dedo pun segera dibawa ibunya ke rumah Mang Diding di Belakang Pasar Balong Kelurahan Majalengka Kulon Kecamatan/Kabupaten Majalengka, dekat rumahku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mang Diding pun segera menenangkan Dedo sambil menghubungi Mantri Cecep untuk memeriksa keadaan penis Dedo. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya, Mantri Cecep pun datang. Ia segera memeriksa keadaan penis Dedo. Sambil memberikan obat, ia mengatakan bahwa tampaknya Dedo seperti telah disunat menggunakan laser, karena tidak ada setetes darah pun di sekitar penis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuharap melalui peristiwa tersebut, kita selaku Makhluk Allah SWT mendapat pelajaran dan semakin sadar akan kebesaran-Nya, sehingga kita semakin dekat kepada-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi keponakanku, semoga cepat sembuh dan tumbuh menjadi seorang muslim yang taat beribadah, patuh kepada kedua orang tua, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Amiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-3101455875892283366?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/3101455875892283366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2011/03/keponakanku-disunat-makhluk-lain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/3101455875892283366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/3101455875892283366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2011/03/keponakanku-disunat-makhluk-lain.html' title='Keponakanku Disunat Makhluk Lain'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-gPidd5By_5k/TYM2j6yLTiI/AAAAAAAAAB0/xPTZuzGLurw/s72-c/Dedo%2BDisunat%2BMakhluk%2BLain.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-1832212342892257317</id><published>2011-01-16T04:03:00.000-08:00</published><updated>2011-01-16T04:03:54.873-08:00</updated><title type='text'>Cara Menambahkan Jam dan Kalender pada Blog</title><content type='html'>Menata Blog sedemikian rupa hingga membuat pengunjung merasa kerasan merupakan kebutuhan kita. Oleh karena itu, jika Anda bermaksud memasang beberapa aksesoris, misalnya memasang  jam. Anda dapat mendapatkannya secara gratis pada situs http://www.clocklink.com dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Klik link --&gt; http://www.clocklink.com&lt;br /&gt;2. Jika sudah berada pada situs tersebut, silahkan klik tulisan Want a clock on your Website ?&lt;br /&gt;3. Sebelum itu, sebaiknya Anda melihat-lihat dulu model jam yang tersedia, yaitu mulai dari Analog, Animal, Animation, dan lain-lain.&lt;br /&gt;4. Jika telah menemukan model jam yang sesuai, klik tulisan View HTML tag yang berada di bawah jam tadi.&lt;br /&gt;5. Klik tombol yang bertuliskan Accept.&lt;br /&gt;6. Pilih waktu yang sesuai dengan tempat Anda di samping tulisan Time Zone. Contoh : untuk indonesia bagian barat pilih GMT +7:00&lt;br /&gt;7. Set ukuran jam yang anda sukai di samping tulisan size&lt;br /&gt;8. Copy kode HTML yang di berikan pada notepad.&lt;br /&gt;9. Paste kode HTML yang di copy tadi pada tempat tambah gadget yang anda inginkan.&lt;br /&gt;10. Selanjutnya lihat Blog kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Atau bila Anda ingin menambahkan kalender secara gratis,  dapat dilakukan dengan cara masuk ke situs http://www.free-blog-content.com dengan cara yang tidak jauh berbeda seperti memasang  jam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-1832212342892257317?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/1832212342892257317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2011/01/cara-menambahkan-jam-dan-kalender-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/1832212342892257317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/1832212342892257317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2011/01/cara-menambahkan-jam-dan-kalender-pada.html' title='Cara Menambahkan Jam dan Kalender pada Blog'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-9095190123305947078</id><published>2010-07-17T08:41:00.000-07:00</published><updated>2010-07-17T08:41:44.249-07:00</updated><title type='text'>Semantik</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Pengertian Semantik&lt;br /&gt; Kata semantik (Inggris: semantics) berasal dari kata sema, berupa kata benda dalam bahasa Yunani yang berarti “tanda” atau “lambang”. Kata sema ini setelah diubah ke dalam kata kerja menjadi semaino yang berarti “menandai” atau “melambangkan”.&lt;br /&gt; Tanda atau lambang sebagai padanan dari kata sema merupakan tanda linguistik yang terdiri dari komponen yang mengartikan (signifie) dan komponen yang diartikan (signifiant). Komponen yang mengartikan berwujud bentuk-bentuk bunyi bahasa, sedangkan komponen yang diartikan merupakan komponen makna dari komponen pertama. Kedua komponen ini merupakan tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambangkannya merupakan sesuatu yang berada di luar bahasa dan lazim disebut sebagai referent atau hal yang ditunjuk.&lt;br /&gt; Selanjutnya, kata semantik disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dapat juga dikatakan bahwa semantik merupakan bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. &lt;br /&gt; Hal itu berarti bahwa, komponen makna seperti halnya bunyi dan tata bahasa, ternyata menduduki tingkatan tertentu. Jadi, bila komponen bunyi menduduki tingkat pertama, komponen tata bahasa tingkat kedua, maka komponen makna menduduki tingkatan paling akhir. Dan hubungan ketiga komponen ini sesuai dengan kenyataan bahwa; (a) bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstrak yang mengacu pada keberadaan lambang-lambang tertentu, (b) lambang-lambang merupakan seperangkat sistem yang memiliki tatanan dan hubungan tertentu, dan (c) seperangkat lambang yang memiliki bentuk dan hubungan itu mengasosiasikan keberadaan makna tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Jenis Semantik&lt;br /&gt; Semantik yang dapat diartikan sebagai bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa, dapat dibedakan menjadi semantik behaviorisme dan semantik struktural. Semantik behaviorisme menekankan kajiannya pada masalah hubungan makna dengan pemeran dan konteks pemakaian, serta makna dengan proses kejiwaan pemeran, baik dalam kegiatan pengolahan maupun pemahaman pesan. Sedangkan semantik struktural, kajiannya berfokus pada masalah makna dalam hubungannya dengan struktur kata maupun kelompok kata.&lt;br /&gt; Selain pembagian seperti itu, mengingat pengertian semantik menunjuk pada objek studinya yaitu berupa makna bahasa atau lebih tepatnya, makna dari satuan-satuan bahasa seperti kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana, maka cakupan studi semantik pun dapat dibedakan berdasarkan tataran objek penyelidikannya. &lt;br /&gt; Bila objek penyelidikannya pada tataran leksikon dari bahasa, maka jenis semantiknya disebut semantik leksikal. Dalam jenis semantik ini diselidiki makna yang ada pada leksem-leksem dari bahasa tersebut. Oleh karena itu, makna yang ada pada leksem-leksem itu disebut makna leksikal. Di sini perlu dijelaskan mengenai istilah leksem. Leksem adalah suatu istilah yang lazim digunakan dalam studi semantik untuk menyebut satuan-satuan bahasa yang bermakna, dapat berupa sebuah kata atau gabungan kata. Kumpulan dari leksem-leksem ini disebut leksikon, sedangkan kumpulan dari kata-kata suatu bahasa disebut kosa kata. &lt;br /&gt; Bila objek penyelidikannya pada tataran tata bahasa atau gramatika, maka jenis semantiknya disebut semantik gramatikal. Dalam jenis semantik ini diselidiki makna yang ada pada satuan-satuan morfologi (morfem dan kata) dan sintaksis (kata, frase, klausa, dan kalimat). Oleh karena itu, makna yang dijadikan objek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut. &lt;br /&gt; Namun, bila objek penyelidikannya lebih bertumpu pada hal-hal yang berkaitan dengan sintaksis meskipun masih berada dalam tataran tata bahasa, maka jenis semantiknya disebut semantik sintaktikal. Hal ini dilakukan karena dalam sintaksis terdapat tiga tataran bawahan yang disebut fungsi gramatikal, kategori gramatikal, dan peran gramatikal. Fungsi gramatikal merupakan kotak-kotak kosong yang diberi nama subjek, predikat, objek, dan keterangan. Kategori gramatikal merupakan pengisi kotak-kotak kosong tersebut yang dapat berupa nomina, verba, atau ajektiva. Sedangkan peran gramatikal merupakan peran pengisi kotak-kotak kosong yang sudah memiliki makna leksikal, seperti peran agentif, pasien, objek, benafaktif, lokatif, instrumental, dan sebagainya.&lt;br /&gt; Selain semantik leksikal, semantik gramatikal, dan semantik sintaktikal tersebut, terdapat satu jenis semantik lagi yang oleh Verhaar disebut semantik maksud (1978: 130). Semantik maksud merupakan jenis semantik yang menjadikan pemakaian bentuk-bentuk gaya bahasa sebagai objek penyelidikannya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;1.3 Manfaat Semantik&lt;br /&gt; Manfaat yang dapat diperoleh melalui studi semantik sangat bergantung pada jenis bidang yang kita geluti dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, bagi seorang wartawan, peneliti bahasa, guru, dan orang awam, studi semantik memiliki manfaat yang berbeda. &lt;br /&gt; Bagi seorang wartawan yang berkecimpung dalam dunia pemberitaan, studi semantik akan memberikan manfaat praktis. Manfaat ini berupa kemudahan dalam memilih dan menggunakan kata-kata yang tepat ketika menyampaikan informasi kepada masyarakat umum. Hal ini terjadi karena tanpa pengetahuan tentang konsep-konsep polisemi, homonimi, denotasi, konotasi, dan nuansa-nuansa makna tertentu, mereka akan sulit menyampaikan informasi secara tepat dan benar.&lt;br /&gt; Bagi para peneliti bahasa, studi semantik akan memberikan bekal teoritis dalam menganalisis bahasa atau bahasa-bahasa yang sedang dipelajari. Sedangkan bagi guru atau calon guru, studi semantik akan memberikan manfaat teoritis dan praktis. &lt;br /&gt; Selanjutnya, bagi orang awam pun studi semantik ternyata akan memberikan manfaat, yaitu memberikan kemudahan bagi dirinya untuk memahami dunia di sekelilingnya yang penuh dengan informasi dan lalu lintas kebahasaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-9095190123305947078?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/9095190123305947078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/07/semantik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/9095190123305947078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/9095190123305947078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/07/semantik.html' title='Semantik'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-3975648540047866673</id><published>2010-06-06T09:42:00.000-07:00</published><updated>2010-06-06T09:50:11.371-07:00</updated><title type='text'>PRESUPOSISI, IMPLIKATUR, DAN ENTAILMENT</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Presuposisi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Istilah presuposisi berasal dari bahasa Inggris presupposition yang berarti perkiraan, persangkaan, atau praanggapan. Istilah ini digunakan karena sebuah kalimat ternyata dapat mempresuposisikan dan mengimplikasikan kalimat yang lain. &lt;br /&gt; Sebuah kalimat dapat dikatakan mempresuposisikan kalimat lain bila ketidakbenaran kalimat kedua (yang dipresuposisikan) mengakibatkan kalimat pertama (yang mempresuposisikan) tidak dapat dikatakan benar atau salah. Untuk memperoleh gambaran lebih jelas, perhatikan kalimat berikut: &lt;br /&gt;(1) Novel Kroco sangat menarik. &lt;br /&gt;(2) Istri pejabat itu cantik sekali.&lt;br /&gt;Kalimat (1) mempresuposisikan bahwa ada novel yang berjudul Kroco. Bila memang ada novel yang berjudul sepeti itu, kalimat ini dapat dinilai benar dan salahnya. Akan tetapi, bila tidak ada novel yang berjudul Kroco, maka kalimat (1) tidak dapat dinilai benar dan salahnya. Demikian pula dengan kalimat (2), kalimat ini  mempresuposisi-kan bahwa pejabat itu mempunyai istri. Bila memang pejabat yang dimaksudkan dalam tuturan itu mempunyai istri, maka kalimat (2) pun dapat dinilai benar dan salahnya. Akan tetapi, bila hal sebaliknya menjadi kenyataan, kalimat (2) pun tidak dapat ditentukan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Implikatur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Di dalam pertuturan yang sesungguhnya, penutur dan lawan tutur dapat melakukan komunikasi secara lancar, karena mereka memiliki kesamaan latar belakang pengetahuan tentang sesuatu yang dipertuturkannya. Jadi di antara penutur dan lawan tutur terdapat semacam kontrak percakapan tidak tertulis, bahwa hal-hal yang dipertuturkannya itu saling dimengerti. &lt;br /&gt; Grice (1975) dalam artikelnya yang berjudul Logic and Conversation menge-mukakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan itu. Proposisi yang diimplikasikan itu disebut implikatur (implicature). Karena implikatur bukan merupakan bagian tuturan yang mengimplikasikannya, hubungan kedua proposisi itu bukan merupakan konsekuensi mutlak (necessary consequence). Untuk memperoleh gambaran lebih jelas, perhatikan kalimat berikut:&lt;br /&gt;(3) Joko : Ali sekarang memelihara kucing.&lt;br /&gt;Ani : Hati-hati menyimpan daging, Jok!&lt;br /&gt;(4) Dita : Tono di mana, Din?&lt;br /&gt;Dini : Tati di rumah Deani.&lt;br /&gt;Tuturan Ani dalam kalimat (3) bukan merupakan bagian dari tuturan Joko. Tuturan Ani muncul akibat inferensi yang didasari oleh latar belakang pengetahuan tentang kucing dengan segala sifatnya. Dan salah satu sifatnya adalah senang makan daging. Dengan demikian, tuturan Ani tersebut merupakan implikatur dari tuturan Joko.&lt;br /&gt; Sedangkan kalimat (4) sepintas tidak merupakan tuturan yang memiliki implikatur. Namun jika Tono adalah teman akrab Tati, maka tuturan Dini dalam kalimat (4) pun merupakan implikatur dari tuturan Dita. Karena meskipun tuturan Dini bukan merupakan bagian dari tuturan Dita. Tuturan Dini ini muncul akibat inferensi yang didasari oleh latar belakang pengetahuan tentang Tono. Tono adalah teman akrab Tati. Kalau Tati di rumah Deani, tentu Tono pun ada di sana.&lt;br /&gt; Tuturan Ani dalam kalimat (3) dan Dini dalam kalimat (4) bukan merupakan bagian dari tuturan Joko dan Dita karena masih dimungkinkan membuat kalimat (5) dan (6) seperti berikut.&lt;br /&gt;(5) Walaupun Ali sekarang memelihara kucing, tetapi kita tidak perlu hati-hati menyimpan daging.&lt;br /&gt;(6) Walaupun Tati ada di rumah Deani, tetapi Tono tidak ada di sana.&lt;br /&gt;Kemungkinan kalimat (5) dan (6) berdiri sebagai kalimat yang gramatikal atau berterima karena secara semantis, tuturan Ani dan Joko serta Dini dan Dita dalam kalimat (3) dan (4) tidak ada keterkaitan. Keberterimaan kalimat (5) dan (6) bila dihubungkan dengan tuturan Joko dan Dita dalam kalimat (3) dan (4) mungkin karena kucing Ali selalu ada di dalam rumah, atau Ali sangat rajin memberi makan kucingnya; atau hubungan Tono dan Tati tidak seerat dulu lagi.&lt;br /&gt; Dengan tidak adanya keterkaitan semantis antara suatu tuturan dengan yang diimplikasikan, maka dapat diperkirakan bahwa sebuah tuturan memiliki kemungkinan untuk menimbulkan implikatur yang tidak terbatas jumlahnya. Misalnya dapat dilihat dalam kalimat (7), (8), dan (9) berikut.&lt;br /&gt;(7) Tono: Bambang datang.&lt;br /&gt;Andi : Rokoknya sembunyikan!&lt;br /&gt;(8) Tono: Bambang datang.&lt;br /&gt;Andi : Aku akan pergi dulu.&lt;br /&gt;(9) Tono: Bambang datang.&lt;br /&gt;Andi : Kamarnya bersihkan!&lt;br /&gt;Tuturan Andi dalam kalimat (7) mungkin mengimplikasikan bahwa Bambang adalah perokok, tetapi ia tidak pernah membeli rokok. Merokok kalau ada yang memberi, dan tidak pernah memberi temannya. Tuturan Andi dalam kalimat (8) mungkin mengimplikasikan bahwa Andi tidak senang terhadap Bambang. Dan tuturan Andi dalam kalimat (9) mungkin mengimplikasikan bahwa Bambang adalah seorang pembersih dan akan marah-marah bila melihat sesuatu yang kotor. &lt;br /&gt; Penggunaan kata mungkin dalam menafsirkan implikatur yang ditimbulkan oleh sebuah tuturan penutur seperti pada penjelasan kalimat (3), (4), (5), (6), (7), (8), dan (9) tersebut, didasari banyaknya kemungkinan implikasi yang melandasi kontribusi lawan tutur dalam ketujuh tuturan yang disebutkan penutur-penuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Entailment&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Berbeda dengan implikatur yang menunjukkan bahwa hubungan antara tuturan dan maksudnya tidak bersifat mutlak, misalnya seperti tercermin dalam relasi tuturan lawan tutur dan penutur dalam kalimat (3), (4), (5), (6), (7), (8), dan (9) tersebut, pertalian antara penutur dan lawan tutur dalam kalimat (10) berikut ternyata bersifat mutlak. Hubungan antara tuturan dan maksudnya yang bersifat mutlak ini disebut entailment.&lt;br /&gt;(10) Parto : Badu menggoreng ikan. &lt;br /&gt;Eko : Badu memasak ikan.&lt;br /&gt;Tuturan Eko dalam kalimat (96) merupakan bagian atau konsekuensi mutlak (necessary sequence) dari tuturan Parto, karena menggoreng secara mutlak berarti memasak. Sehubungan dengan kalimat (96) itu, maka kalimat (97) berikut tidak dapat diterima.&lt;br /&gt;(11) Walaupun Badu menggoreng ikan, tetapi ia tidak memasaknya.&lt;br /&gt;Yang benar adalah jika Badu menggoreng ikan tentu ia harus memasak ikan itu, karena menggoreng adalah salah satu cara memasak ikan. Contoh lainnya dapat dilihat dalam kalimat berikut.&lt;br /&gt;(12) Dewi : Desi Ratnasari seorang janda.&lt;br /&gt;Ani : Desi Ratnasari pernah memiliki suami.&lt;br /&gt;(13) Dewi : Anaknya seorang sarjana. &lt;br /&gt;Ani : Anaknya pernah kuliah di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;Kalimat (98) dan (99) tersebut tidak dapat diubah bentuknya menjadi tuturan seperti dalam kalimat (100) dan (101) berikut.&lt;br /&gt;(14) Walaupun Desi Ratnasari seorang janda, tetapi ia belum pernah bersuami. &lt;br /&gt;(15) Walaupun anaknya sarjana, tetapi anaknya tidak pernah kuliah di perguruan tinggi.&lt;br /&gt;Hal itu terjadi karena tuturan Ani dan Dewi dalam kalimat (98) dan (99) tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara tuturan dan maksud tuturannya bersifat mutlak, sehingga kalimat (100) dan (101) itu tidak dapat diterima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bibliografi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.&lt;br /&gt;______. 1995.  Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta. &lt;br /&gt;Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Pusat  Bahasa  Departemen  Pendidikan  Nasional. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. &lt;br /&gt;Rahardi,  Kunjana.  2005.  Pragmatik:  Kesantunan  Imperatif   Bahasa   Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga&lt;br /&gt;Ramlan, M. 1987. Ilmu Bahasa Indonesia: Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono.&lt;br /&gt;______. 1995. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono.&lt;br /&gt;Tarigan,  Henry  Guntur.  1982.  Menulis  sebagai  Suatu  Keterampilan Berbahasa. Bandung: Percetakan Angkasa.&lt;br /&gt;______. 1984.  Berbicara   sebagai   Suatu    Keterampilan   Berbahasa.   Bandung: Percetakan Angkasa.&lt;br /&gt;______. 1986.   Pengajaran   Pragmatik. Bandung: Percetakan Angkasa.&lt;br /&gt;______. 1987.   Membaca   sebagai   Suatu   Keterampilan   Berbahasa.   Bandung: Percetakan Angkasa.&lt;br /&gt;______. 1996.   Menyimak   sebagai    Suatu   Keterampilan   Berbahasa.  Bandung: Percetakan Angkasa.&lt;br /&gt;Warsiman. 2007. Kaidah Bahasa Indonesia yang Benar. Bandung: Dewa Ruci.&lt;br /&gt;Wijana, I. Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-3975648540047866673?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/3975648540047866673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/06/presuposisi-implikatur-dan-entailment.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/3975648540047866673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/3975648540047866673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/06/presuposisi-implikatur-dan-entailment.html' title='PRESUPOSISI, IMPLIKATUR, DAN ENTAILMENT'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-9136643891556605634</id><published>2010-03-19T08:09:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T08:21:27.471-07:00</updated><title type='text'>Pragmatik dan Keterampilan Berbahasa</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Seperti kompetensi kebahasaan, kompetensi keterampilan berbahasa pun memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan pragmatik. Keterkaitan ini didasari suatu kenyataan yang menunjukkan bahwa kesuksesan dalam memaknai suatu kalimat atau wacana secara pragmatik harus didukung oleh penguasaan kompetensi keterampilan berbahasa. Kompetensi keterampilan berbahasa yang harus dikuasai ada empat, yaitu 1) keterampilan menyimak (listening skills), 2) keterampilan berbicara (speaking skills), 3) keterampilan membaca (reading skills), dan 4) keterampilan menulis (writing skills). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Keempat kompetensi keterampilan berbahasa ini pun tidak akan diuraikan secara mendalam. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mengkajinya dalam berbagai sumber yang membahas keempat keterampilan berbahasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Kompetensi Keterampilan Menyimak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Menyimak merupakan “suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan” (Tarigan, 1994: 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kompetensi keterampilan menyimak yang perlu diperhatikan karena sangat erat kaitannya dengan pragmatik adalah kemampuan yang berkaitan dengan proses menyimak, faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan menyimak, jenis-jenis menyimak, dan ciri-ciri penyimak yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Proses Menyimak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Keterampilan menyimak memiliki suatu proses yang mencakup lima tahap, yaitu: 1) tahap mendengar, 2) tahap memahami, 3) tahap menginterpretasi, 4) tahap mengevaluasi, dan 5) tahap menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tahap pertama adalah tahap mendengar (hearing). Dalam tahap ini, penyimak baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan pembicara dalam bentuk ujaran atau pembicaraannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tahap kedua adalah tahap memahami (understanding). Setelah penyimak mendengar, maka muncul keinginan untuk mengerti atau memahami dengan baik isi pembicaraan yang disampaikan pembicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tahap ketiga adalah tahap menginterpretasi (interpreting). Penyimak yang baik, yang cermat, dan yang teliti, belum puas bila hanya mendengar dan memahami isi ujaran pembicara, ia pasti ingin menafsirkan atau menginterpretasikan isi, butir-butir pendapat yang terdapat dan tersirat dalam ujaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tahap keempat adalah tahap mengevaluasi (evaluating). Setelah mendengar, memahami, dan menginterpretasi, penyimak mulai menilai atau mengevaluasi pendapat dan gagasan pembicara, terutama yang berkaitan dengan keunggulan, kelemahan, dan manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan tahap kelima yang merupakan tahap terakhir adalah tahap menanggapi (responding). Dalam tahap ini, penyimak akan menyambut, mencamkan, menyerap, dan menerima, atau menolak gagasan yang dikemukakan pembicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Menyimak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan menyimak ada delapan faktor, yaitu: 1) faktor fisik, 2) faktor psikologis, 3) faktor pengalaman, 4) faktor sikap, 5) faktor motivasi, 6) faktor jenis kelamin, 7) faktor lingkungan, dan 8) faktor peranan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Faktor pertama adalah faktor fisik. Faktor ini terdiri atas kondisi fisik penyimak dan lingkungan fisik sekitar penyimak. Kondisi fisik merupakan modal penting yang sangat menentukan bagi setiap penyimak, karena dengan kondisi fisik yang prima, keefektifan dan kualitas aktivitas penyimak akan prima pula. Dan kondisi lingkungan fisik pun merupakan modal yang tak kalah penting karena turut menentukan efektivitas dan kualitas aktivitas yang dilakukan penyimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Faktor kedua adalah faktor psikologis. Faktor ini melibatkan sikap-sikap dan sifat-sifat pribadi yang mencakup beberapa masalah, antara lain:&lt;br /&gt;1.	prasangka dan kurangnya rasa simpati terhadap pembicara dengan berbagai sebab dan alasan;&lt;br /&gt;2.	keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat pribadi serta masalah pribadi;&lt;br /&gt;3.	kepicikan yang menyebabkan munculnya pandangan yang kurang luas; &lt;br /&gt;4.	kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tidak adanya perhatian terhadap pokok pembicaraan; dan&lt;br /&gt;5.	sikap yang tidak layak terhadap pokok pembicaraan, atau terhadap pembicaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Faktor ketiga adalah faktor pengalaman. Faktor ini merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan pengalaman yang dapat menguntungkan atau merugikan bagi penyimak itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Faktor keempat adalah faktor sikap. Faktor ini merupakan faktor yang muncul sebagai dampak dari faktor fisik, psikologis, dan pengalaman penyimak, sehingga dalam kegiatan menyimak, penyimak dapat memiliki dua sikap yang melahirkan dampak positif atau negatif, yaitu sikap menerima dan menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Faktor kelima adalah faktor motivasi. Motivasi merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan seseorang. Bila motivasi untuk mengerjakan sesuatu kuat, maka kemungkinan untuk berhasil meraih tujuan lebih mudah terwujud. Demikian pula halnya dengan menyimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Faktor keenam adalah faktor jenis kelamin. Berdasarkan hasil penelitian, laki-laki dan perempuan pada umumnya memiliki perhatian yang berbeda, dan cara memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda. Misalnya pendapat Julian Silverman dalam Attentional Styles and the Study of Sex Differences menemukan beberapa fakta bahwa “gaya menyimak laki-laki pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati, analitik, rasional, keras kepala, atau tidak mau mundur, menetralkan, intrinsif (bersifat mengganggu), berdikari/mandiri, sanggup mencukupi kebutuhan sendiri (swasembada), dapat menguasai/mengendalikan emosi; sedangkan gaya menyimak perempuan cenderung lebih subjektif, pasif, ramah/simpatik, difusif (menyebar), sensitif, mudah dipengaruhi, mudah mengalah, reseptif, bergantung (tidak berdikari), dan emosional” (Silverman, 1970: 139).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Faktor ketujuh adalah faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu: 1) lingkungan fisik, dan 2) lingkungan sosial. Lingkungan fisik merupakan berbagai benda/sarana yang perlu diatur dan ditata sedemikian rupa sehingga memungkinkan setiap penyimak memiliki kesempatan yang sama untuk menyimak dan disimak. Dan lingkungan sosial merupakan berbagai suasana yang dapat mendorong penyimak untuk mengalami, mengekspresikan, dan mengevaluasi ide-ide penting yang disampaikan pembicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan faktor kedelapan adalah faktor peranan dalam masyarakat. Faktor ini merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi kegiatan menyimak. Misalnya, sebagai seorang pendidik yang memerlukan berbagai informasi yang berkaitan dengan pendidikan, ia akan menyimak ceramah, kuliah, atau siaran radio dan televisi dengan penuh perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Jenis-jenis Menyimak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Kegiatan menyimak terbagi menjadi dua jenis, yaitu 1) menyimak ekstensif (extensive listening), dan 2) menyimak intensif (intensive listening). Menyimak ekstensif ini terbagi lagi menjadi empat jenis, yaitu: 1) menyimak sosial, 2) menyimak sekunder, 3) menyimak estetik, dan 4) menyimak pasif. Dan menyimak intensif pun terbagi lagi menjadi enam jenis, yaitu: 1) menyimak kritis (critical listening), 2) menyimak konsentratif (concentrative listening), 3) menyimak kreatif (creative listening), 4) menyimak eksplorasif (exploratory listening), 5) menyimak interogatif (interrogative listening), dan 6) menyimak selektif (selective listening).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Jenis menyimak pertama adalah menyimak ekstensif (extensive listening). Menyimak ekstensif  merupakan “sejenis kegiatan menyimak mengenai hal-hal yang lebih umum dan lebih bebas terhadap suatu ujaran, tidak perlu di bawah bimbingan langsung dari seorang guru” (Tarigan, 1994: 35). Menyimak ekstensif ini dapat digunakan untuk dua tujuan yang berbeda, yaitu: 1) untuk menangkap atau mengingat kembali hal-hal yang telah dikenal atau diketahui dalam suatu lingkungan baru dengan cara baru; dan 2) memberi kesempatan dan kebebasan dalam menyimak hal-hal baru yang terdapat dalam arus ujaran yang berada dalam jangkauan dan kapasitas untuk menanganinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Menyimak ekstensif ini terbagi lagi menjadi empat jenis, yaitu: 1) menyimak sosial, 2) menyimak sekunder, 3) menyimak estetik, dan 4) menyimak pasif. Menyimak sosial ini mencakup dua hal, yaitu: 1) menyimak secara sopan santun dengan penuh perhatian terhadap ujaran dalam situasi-situasi sosial dengan suatu maksud; dan 2) menyimak dengan melibatkan diri dalam proses komunikasi. Menyimak sekunder merupakan sejenis kegiatan menyimak secara kebetulan (casual listening) dan secara ekstensif (extensive listening). Menyimak estetik atau menyimak apresiatif merupakan fase terakhir dari kegiatan menyimak kebetulan dan termasuk ke dalam menyimak ekstensif yang mencakup dua kegiatan, yaitu 1) menyimak musik, puisi, pembacaan bersama, drama radio, dan rekaman; 2) menikmati cerita, puisi, lakon-lakon yang dilakukan aktor. Dan menyimak pasif merupakan penyerapan suatu ujaran tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya-upaya pada saat belajar dengan kurang teliti, tergesa-gesa, menghafal luar kepala, berlatih santai, dan menguasai suatu bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Jenis menyimak kedua adalah menyimak intensif (intensive listening). Menyimak intensif merupakan dikotomi dari menyimak ekstensif, karena “menyimak intensif diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap suatu hal tertentu” (Tarigan, 1994: 40). Menyimak intensif ini terbagi menjadi enam jenis, yaitu: 1) menyimak kritis (critical listening), 2) menyimak konsentratif (concentrative listening), 3) menyimak kreatif (creative listening), 4) menyimak eksplorasif (exploratory listening), 5) menyimak interogatif (interrogative listening), dan 6) menyimak selektif (selective listening). Menyimak kritis merupakan sejenis kegiatan menyimak untuk mencari kesalahan atau kekeliruan, dan hal-hal yang baik dan benar dari ujaran seorang pembicara, dengan alas an kuat yang dapat diterima akal sehat. Menyimak konsentratif merupakan sejenis telaah dengan cara mengikuti petunjuk, mencari hubungan, mencari informasi, memperoleh pemahaman, menghayati ide-ide, memahami urutan ide-ide, dan mencatat fakta-fakta. Menyimak kreatif merupakan sejenis kegiatan dalam menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatif penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, dan perasaan kinestetik yang disarankan atau dirangsang oleh hal-hal yang disimaknya. Menyimak eksplorasif merupakan sejenis kegiatan menyimak intensif dengan maksud dan tujuan menyelidiki sesuatu, lebih terarah, dan lebih sempit. Menyimak interogatif merupakan sejenis kegiatan menyimak intensif yang menuntut lebih banyak konsentrasi dan seleksi, pemusatan perhatian dan pemilihan butir-butir ujaran pembicara, demi kepentingan untuk mengajukan sebanyak mungkin pertanyaan. Dan menyimak selektif merupakan sejenis kegiatan menyimak pasif yang lebih baik dan digunakan dalam mempelajari bahasa asing dengan cara memperhatikan nada suara, bunyi-bunyi asing, bunyi-bunyi yang bersamaan, kata dan frase, serta bentuk-bentuk ketatabahasaan bahasa asing tersebut.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Ciri-ciri Penyimak yang Sukses&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Penyimak yang sukses atau penyimak yang baik (a good listener) memiliki beberapa ciri, antara lain: “1) berperilaku sopan santun, 2) memperoleh fakta-fakta, 3) benar-benar memusatkan perhatian, 4) menyimak dengan pertimbangan sehat, dan 5) dapat memanfaatkan hal-hal yang disimaknya” (Anderson, 1972: 73).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Kompetensi Keterampilan Berbicara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Berbicara merupakan “salah satu aspek keterampilan berbahasa berwujud ujaran bertekanan dan berintonasi yang dihasilkan oleh alat ucap dan dilengkapi dengan paralinguistik berupa mimik dan dramatisasi, serta digunakan untuk mengungkapkan kreatifitas perasaan, maupun pikiran sesuai dengan situasi pemakaiannya” (Natasasmita, 1995: 20). Kompetensi keterampilan berbicara yang perlu diperhatikan karena sangat erat kaitannya dengan pragmatik adalah kemampuan yang berkaitan dengan ragam berbicara, dan faktor-faktor pendukung keterampilan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Ragam Berbicara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Keterampilan berbicara dapat dibedakan berdasarkan beberapa sudut pandang pengkajian, antara lain berdasarkan kesempatan menjadi penutur, dan berdasarkan  situasi pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	 Berdasarkan kesempatan sebagai penutur, keterampilan berbicara dapat dibedakan menjadi dua, yaitu 1) berbicara satu arah, dan 2) berbicara dua arah. Berbicara satu arah merupakan keterampilan berbicara yang hanya melibatkan penutur sebagai pembicara, tanpa pemberian kesempatan kepada lawan tuturnya untuk berperan sebagai pembicara, artinya lawan tutur hanya berperan sebagai penyimak. Sebaliknya, berbicara dua arah merupakan keterampilan berbicara yang memberikan kesempatan kepada penutur dan lawan tutur untuk menjadi pembicara secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan situasi pembicaraan, keterampilan berbicara dapat dibedakan menjadi dua ragam, yaitu 1) berbicara dalam situasi kekeluargaan, dan 2) berbicara dalam situasi resmi. Berbicara dalam situasi kekeluargaan merupakan keterampilan berbicara yang tidak memerlukan penggunaan kaidah kebahasaan yang baku, misalnya digunakan dalam obrolan keluarga, perkenalan, dan perpisahan. Sedangkan berbicara dalam situasi resmi merupakan keterampilan berbicara yang memerlukan penggunaan kaidah kebahasaan yang baik dan benar, formal, atau baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Keterampilan berbicara dalam situasi resmi itu, memiliki jenis yang beragam, antara lain: 1) ceramah, 2) diskusi, 3) diskusi panel, 4) seminar, 5) simposium, 6) santiaji, dan 7) kongres. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Ceramah merupakan “pidato oleh seseorang di hadapan banyak pendengar, yang membicarakan suatu hal atau pengetahuan tertentu” (Depdikbud, 1996: 185). Oleh karena itu, ceramah memerlukan kekhususan yang diorientasikan kepada tema, tujuan, materi, sistematika, teknik, dan penampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Diskusi merupakan pembicaraan bersama mengenai suatu masalah yang menyangkut kepentingan bersama yang dilakukan secara musyawarah dan mufakat. Maka suatu diskusi hanya akan dilangsungkan bila: 1) ada masalah yang khusus, baru, hangat, menarik, dan menyangkut kepentingan bersama; 2) adanya orang-orang yang terlibat dan menyumbangkan buah pikirannya; dan 3) ada keragaman bersama untuk mencari dan menemukan cara pemecahan masalah yang terbaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Diskusi panel merupakan “diskusi yang dilakukan oleh sekelompok orang (yang disebut panel) yang membahas suatu topik yang menjadi perhatian umum di hadapan khalayak, pendengar (siaran radio), atau penonton (siaran televisi), khalayak diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapat” (Depdikbud, 1996: 238). Oleh karena itu, dalam diskusi panel terdapat: 1) panitia panel yang terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa pembantu yang diperlukan; 2) adanya peserta panel yang disebut panelis, terdiri atas para pakar disiplin ilmu tertentu; 3) adanya peminat yang mengikuti panel; dan 4) peninjau yang diundang panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Seminar merupakan “pertemuan atau persidangan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli (guru besar, pakar, dsb)” (Depdikbud, 1996: 907). Simposium merupakan “pertemuan dengan beberapa pembicara yang mengemukakan pidato singkat tentang topik tertentu atau tentang beberapa aspek dari topik yang sama” (Depdikbud, 1996: 942). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Santiaji merupakan “pemberian petunjuk atau pengarahan mengenai strategi kerja yang terkadang disertai peragaan atau pelatihan” (Depdikbud, 1996: 878). Dan Kongres merupakan “pertemuan besar para wakil organisasi (politik, sosial, profesi) untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan mengenai pelbagai masalah” (Depdikbud, 1996: 519).&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Faktor-faktor Pendukung Keterampilan Berbicara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Berbicara dengan baik akan mudah dipahami lawan tutur. Oleh karena itu, dalam berbicara harus memperhatikan kaidah-kaidah kebahasaan. Selain itu, berbicara pun harus mudah dimengerti maksudnya, sehingga diperlukan pemahaman terhadap beberapa faktor pendukung keterampilan berbicara, antara lain: 1) pembicara, 2) pendengar, 3) alat yang digunakan dalam berbicara, 4) kesamaan pembicaraan, dan 5) pesan yang disampaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;D. Kompetensi Keterampilan Membaca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Membaca merupakan “salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat aktif reseptif dan tidak langsung, melalui pengalihkodean lambang-lambang grafemik atau tulisan menjadi ujaran yang bertekanan, berintonasi, dan berlagu, untuk menyerap makna-makna, ide-ide, gagasan-gagasan, sebagaimana yang dimaksud oleh pengucapnya” (Natasasmita, 1995: 28). Kompetensi keterampilan membaca yang perlu diperhatikan karena sangat erat kaitannya dengan pragmatik adalah kemampuan yang berkaitan dengan aspek-aspek membaca, dan jenis-jenis membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Aspek-aspek Membaca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Keterampilan membaca tidak dapat diperoleh secara sekaligus, melainkan berlangsung melalui penguasaan kemampuan dan keterampilan dua aspek, yaitu: 1) aspek gerak, dan 2) aspek pemahaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Aspek gerak mencakup dua penguasaan kemampuan dan keterampilan, yaitu: 1) mengalih lambang bunyi ujar menjadi ujaran yang sesuai dengan kaidah pengejaannya; dan 2) mengalih lambang-lambang tanda baca menjadi tekanan, intonasi, dan lagu ujar yang sesuai dengan kaidah pengejaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Sedangkan aspek pemahaman yang merupakan akibat langsung dari penguasaan kemampuan dan keterampilan aspek gerak, mencakup sembilan tahap pemahaman, yaitu: 1) pemahaman sederhana, seperti pemahaman makna-makna leksikal, gramatikal, dan retorika sederhana; 2) pemahaman signifikan, yaitu pemahaman nilai-nilai yang terkandung dalam tulisan; 3) pemahaman analisis, yaitu pemahaman yang menghasilkan rincian-rincian detail yang terkandung dalam tulisan; 4) pemahaman aplikatif, yaitu pemahaman yang menghasilkan berbagai penerapan tulisan dengan penggunaannya; 5) pemahaman korelatif, yaitu pemahaman kandungan tulisan dalam hubungannya dengan pemahaman lain yang telah dikuasai; 6) pemahaman apresiasif, yaitu pemahaman kandungan tulisan dengan kemungkinan mengajukan penilaian atau penghargaan; 7) pemahaman evaluasi, yaitu pemahaman kandungan tulisan dengan kemungkinan memperoleh kesimpulan; 8) pemahaman komparatif, yaitu pemahaman kandungan isi tulisan dengan kemungkinan mengemukakan perbandingan antar bagian, maupun perbandingan dengan pemahaman yang telah dikuasai; dan 9) pemahaman situasi yang melatarbelakangi kandungan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Jenis-jenis Membaca&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Keterampilan membaca pun dapat dibedakan berdasarkan beberapa sudut pandang pengkajian, antara lain berdasarkan adanya suara yang dikeluarkan, dan berdasarkan  sifatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan adanya suara yang dikeluarkan, membaca dibedakan menjadi dua jenis, yaitu 1) membaca nyaring; dan 2) membaca dalam hati. Membaca nyaring merupakan kegiatan membaca yang diikuti oleh gerak bibir, suara yang keras atau nyaring, dan gerak tubuh lain. Sedangkan membaca dalam hati merupakan kegiatan membaca yang hanya diikuti oleh gerakan mata, tanpa gerakan lain, apalagi suara yang nyaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan berdasarkan sifatnya, membaca dibedakan menjadi dua jenis pula, yaitu 1) membaca ekstensif; dan 2) membaca intensif. Membaca ekstensif merupakan kegiatan membaca yang dilakukan secara cepat dan bertujuan untuk memperoleh gambaran umum, misalnya membaca survey dan membaca sekilas. Membaca survey biasanya dilakukan untuk kepentingan studi agar mendapatkan gambaran garis-garis besar kandungan tulisan, seperti judul, bab-bab, dan pasal-pasal. Membaca sekilas atau skimming biasanya dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang kesan umum kandungan tulisan, atau mengenali bagian-bagian tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Sedangkan membaca intensif merupakan “tingkat membaca utama yang dilakukan dengan cara: (a) teliti, sebab bertujuan menyerap isi dengan cepat, cermat, efektif, dan efisien; (b) kritis, sebab bertujuan menyerap ide-ide dan gagasan-gagasan pokok yang logis, rasional, dan objektif; (c) seksama, sebab bertujuan menelaah struktur isi yang dituangkan dalam tulisan; (d) membaca telaah bahasa, sebab bertujuan memperoleh gambaran detail bahasa sebagai objek ilmu” (Natasasmita, 1995: 29).&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;E. Kompetensi Keterampilan Menulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Menulis merupakan “menurunkan atau melukiskan lambing-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambing-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik itu” (Tarigan, 1982: 21). Kompetensi keterampilan menulis yang perlu diperhatikan karena sangat erat kaitannya dengan pragmatik adalah kemampuan yang berkaitan dengan jenis-jenis tulisan, dan penulis yang sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Jenis-jenis Tulisan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Jenis-jenis tulisan telah banyak dikemukakan beberapa para ahli dengan menggunakan berbagai sudut pandang yang berbeda sebagai dasar pengklasifikasian-nya. Pada bagian ini, jenis-jenis tulisan hanya akan dilihat berdasarkan tiga dasar pengklasifikasian, yaitu berdasarkan penyampaian isi, berdasarkan nada, dan berdasarkan penggunaan fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a. Berdasarkan Penyampaian Isi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan penyampaian isi, tulisan diklasifikasikan menjadi lima jenis. Kelima jenis tulisan ini adalah: 1) tulisan narasi, 2) tulisan deskripsi, 3) tulisan eksposisi, 4) tulisan persuasi, dan 5) tulisan argumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan narasi merupakan “semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu peristiwa atau kejadian, sehingga peristiwa itu tampak seolah-olah dialami sendiri oleh para pembaca” (Keraf, 1993: 17). Tulisan narasi ini terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu: 1) narasi ekspositoris, dan 2) narasi sugestif. Narasi ekspositoris merupakan tulisan narasi yang mempersoalkan tahap-tahap kejadian atau  rangkaian-rangkaian perbuatan kepada pembaca, sehingga dapat memperluas pengetahuan atau pengertian pembaca. Dan narasi sugestif pun merupakan tulisan narasi yang mempersoalkan tahap-tahap kejadian atau rangkaian-rangkaian perbuatan kepada pembaca, tetapi tujuan atau sasarannya bukan memperluas pengetahuan atau pengertian pembaca, melainkan berusaha memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman, sehingga tulisan narasi sugestif ini selalu melibatkan daya khayal atau imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan deskripsi merupakan “semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau hal sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan pembaca melihat sendiri objek itu” (Keraf, 1995: 16). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan eksposisi merupakan “suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan suatu objek, sehingga memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca” (Keraf, 1995: 7). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan persuasi merupakan “karangan yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pengarang pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang” (Keraf, 1987: 118). Oleh karena itu, untuk mengadakan persuasi, Aristoteles dalam Rhetorica mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: 1) watak dan kredibilitas pembicara, 2) kemampuan pembicara mengendalikan emosi hadirin, dan 3) bukti-bukti atau fakta-fakta yang diperlukan untuk membuktikan suatu kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan argumentasi merupakan “suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara” (Keraf, 2001: 3). Melalui argumentasi, penulis berusaha merangkaikan berbagai fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukkan bahwa suatu pendapat atau suatu hal itu benar atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;b. Berdasarkan Nada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan nada, tulisan diklasifikasikan menjadi enam jenis. Keenan jenis tulisan ini adalah: 1) tulisan bernada akrab, 2) tulisan bernada informatif, 3) tulisan bernada penjelasan, 4) tulisan bernada argumentasi, 5) tulisan bernada mengkritik, dan 6) tulisan bernada otoritatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan bernada akrab merupakan tulisan yang berbentuk tulisan pribadi. “Tulisan pribadi adalah suatu pernyataan dari gagasan-gagasan serta perasaan-perasaan kita mengenai pengalaman-pengalaman kita sendiri yang ditulis baik bagi kesenangan kita sendiri ataupun bagi kepentingan dan kenikmatan sanak keluarga atau sahabat karib” (Tarigan, 1982: 30). Tulisan bernada pribadi ini dapat berupa catatan harian, cerita otobiografis, lelucon otobiografis, dan esei pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan bernada informatif atau tulisan bernada penerangan merupakan tulisan deskripsi yang mengajak pembaca untuk bersama-sama menikmati, merasakan, dan memahami beberapa objek, kegiatan, atau suasana hati yang telah dialami penulis. Tulisan ini dapat berbentuk pemerian faktual dan pemerian pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan bernada penjelasan atau tulisan penyingkapan merupakan tulisan yang memiliki tujuan utama untuk menjelaskan sesuatu kepada pembaca melalui pengklasifikasian, pembatasan, penganalisisan, penjelajahan, penafsiran, dan penilaian. Tulisan ini dapat berbentuk klasifikasi, definisi, analisis, dan opini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan bernada argumentasi merupakan tulisan yang bersifat argumen-tatif atau mendebat, sehingga tulisan ini bersifat meyakinkan. Oleh karena itu, tulisan bernada argumentasi ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu persuasi logis dan persuasi emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tulisan bernada mengkritik merupakan tulisan yang menghasilkan tulisan mengenai sastra. Tulisan ini biasanya berupa analisis kritis yang mengkaji unsur-unsur instrinsik dan ekstrinsik pada karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan tulisan bernada otoritatif merupakan tulisan yang menghasilkan karya ilmiah. Tulisan ini biasanya melalui beberapa tahapan, yaitu memilih topik, membaca pendahuluan, menentukan bibliografi pendahuluan, membuat kerangka pendahuluan, membuat catatan, menyusun kerangka akhir, menyusun naskah pertama, mengadakan revisi, menyusun naskah akhir, dan mengoreksi cetakan percobaan.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;c. Berdasarkan Penggunaan Fakta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan penggunaan fakta, tulisan diklasifikasikan menjadi dua, yaitu tulisan ilmiah dan tulisan non-ilmiah. Tulisan ilmiah dapat berupa esei, resensi, artikel, makalah, laporan ilmiah, paper, kertas kerja, buku ilmiah, buku pelajaran, naskah ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi. Dan tulisan non-ilmiah dapat berupa puisi, novel, cerita pendek, dan drama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Penulis yang Sukses&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Penulis yang sukses merupakan penulis yang dapat menyajikan tulisan yang baik. Dan tulisan yang baik ini merupakan komunikasi pikiran dan perasaan yang efektif. Semua tulisan dapat dikatakan efektif atau tepat guna jika penulis:&lt;br /&gt;1.	benar-benar mengetahui hal-hal yang menjadi pokok pembicaraannya; &lt;br /&gt;2.	menguasai cara memberi struktur terhadap gagasan-gagasannya; dan&lt;br /&gt;3.	mengetahui cara mengekspresikan dirinya dengan baik, yaitu menguasai gaya yang serasi.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-9136643891556605634?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/9136643891556605634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/pragmatik-dan-keterampilan-berbahasa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/9136643891556605634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/9136643891556605634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/pragmatik-dan-keterampilan-berbahasa.html' title='Pragmatik dan Keterampilan Berbahasa'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-6810457161770964317</id><published>2010-03-19T07:58:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T08:07:58.720-07:00</updated><title type='text'>Pragmatik dan Kompetensi Kebahasaan</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Pragmatik dan kompetensi kebahasaan memiliki keterkaitan yang sangat erat. Keterkaitan ini didasari suatu kenyataan yang menunjukkan bahwa, pemaknaan kalimat atau wacana tidak akan melahirkan interpretasi yang sesuai dengan tujuan penutur, bila dilakukan hanya dengan mempertimbangkan situasi tutur, tanpa didasari penguasaan kompetensi kebahasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Oleh karena itu, pada bagian ini secara singkat akan diulas berbagai kompetensi kebahasaan yang mendukung pemaknaan kalimat atau wacana secara pragmatik. Adapun kompetensi kebahasaan ini mencakup kompetensi ejaan, kompetensi bentukan kata, dan kompetensi kalimat. Namun ketiga kompetensi kebahasaan ini tidak akan diuraikan secara tuntas, sehingga untuk memperoleh pemahaman lebih dalam tentang kompetensi ini diperlukan pengkajian dari berbagai sumber lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Kompetensi Ejaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Kompetensi ejaan merupakan kemampuan yang berkaitan dengan empat kompetensi, yaitu: 1) pemakaian huruf; 2) penulisan kata; 3) penulisan unsur serapan; dan 4) pemakaian tanda baca. Keempat kompetensi ejaan ini memiliki cakupan yang bebeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kompetensi pemakaian huruf mencakup enam kompetensi, yaitu 1) penguasaan penggunaan huruf abjad; 2) penguasaan penggunaan huruf vokal; 3) penguasaan penggunaan huruf konsonan; 4) penguasaan penggunaan pemenggalan kata; 5) penguasaan penggunaan huruf kapital; dan 6) penguasaan penggunaan huruf miring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kompetensi penulisan kata mencakup sepuluh kompetensi, yaitu 1) penguasaan penggunaan kata dasar; 2) penguasaan penggunaan kata turunan; 3) penguasaan penggunaan bentuk ulang; 4) penguasaan penggunaan gabungan kata; 5) penguasaan penggunaan kata ganti -ku, kau-, -mu, dan -nya; 6) penguasaan penggunaan kata depan di, ke, dan dari; 7) penguasaan penggunaan kata si dan sang; 8) penguasaan penggunaan partikel; 9) penguasaan penggunaan singkatan dan akronim; dan 10) penguasaan penggunaan angka dan lambang bilangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kompetensi penulisan unsur serapan mencakup dua kompetensi, yaitu 1) penguasaan penulisan unsur serapan yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia; dan 2) penguasaan penulisan unsur serapan yang telah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan kompetensi pemakaian tanda baca mencakup empat belas kompetensi, yaitu 1) penguasaan penggunaan tanda titik; 2) penguasaan penggunaan tanda koma; 3) penguasaan penggunaan tanda titik dua; 4) penguasaan penggunaan tanda hubung; 5) penguasaan penggunaan tanda pisah; 6) penguasaan penggunaan tanda elipsis; 7) penguasaan penggunaan tanda tanya; 8) penguasaan penggunaan tanda seru; 9) penguasaan penggunaan tanda kurung; 10) penguasaan penggunaan tanda kurung siku; 11) penguasaan penggunaan tanda petik; 12) penguasaan penggunaan tanda petik tunggal; 13) penguasaan penggunaan tanda garis miring; dan 14) penguasaan penggunaan tanda penyingkat atau apostrof.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Keempat kompetensi ejaan dengan berbagai subkompetensi tersebut, tidak akan diuraikan dalam tulisan ini. Oleh karena itu, untuk memperoleh pemahaman tentang kompetensi ejaan ini, sangat disarankan untuk mengkajinya dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan secara mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Kompetensi Bentukan Kata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Kompetensi bentukan kata merupakan kompetensi kebahasaan yang berkaitan dengan empat kompetensi, yaitu 1) kata dasar; 2) kata berimbuhan; 3) kata majemuk; dan 4) kata ulang. Keempat kompetensi bentukan kata ini memiliki cakupan yang berbeda dan perlu dikaji secara mendalam dalam berbagai sumber yang berkaitan dengan morfologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Kata Dasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Kata dasar merupakan kata-kata yang belum mendapat imbuhan (afiks). Kata dasar ini terbagi ke dalam dua belas kelas kata, yaitu verba, ajektiva, nomina, pronomina, numeralia, adverbia, interogativa, demonstrativa, artikula, preposisi, konjungsi, dan interjeksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Verba merupakan satuan gramatikal yang dapat ditentukan berdasarkan perilakunya dalam frase, yaitu memiliki kemungkinan didampingi partikel tidak dan tidak dapat didampingi partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak. Contoh verba: makan, minum, tidur, pergi, pulang, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Ajektiva merupakan “kategori yang ditandai oleh kemungkinannya untuk (1) bergabung dengan partikel tidak, (2) mendampingi nomina, atau (3) didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, (4) mempunyai ciri-ciri morfologis, seperti -er (dalam honorer), -if (dalam sensitif), -i (dalam alami), atau (5) dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an, seperti adil — keadilan, halus — kehalusan, yakin — keyakinan” (Kridalaksana, 1994: 59). Contoh ajektiva: adil, cantik, gelisah, hampa, senang, panik, sopan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Nomina merupakan “kategori yang secara sintaktis (1) tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak, (2) mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari” (Kridalaksana, 1994: 68). Contoh nomina: aparat, bahu, ekor, orang, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Pronomina merupakan “kategori yang berfungsi untuk menggantikan nomina. Apa yang digantikannya itu disebut anteseden. Anteseden itu ada di dalam atau di luar wacana. Sebagai pronomina kategori ini tidak bisa berafiks, tetapi beberapa di antaranya bisa direduplikasikan, yakni kami-kami, dia-dia, beliau-beliau, mereka-mereka, dengan pengertian meremehkan atau merendahkan” (Kridalaksana, 1994: 76). Contoh pronomina: aku, kami, engkau, kalian, dia, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Numeralia merupakan “kategori yang dapat (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaktis, (2) mempunyai potensi untuk mendampingi numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat” (Kridalaksana, 1994: 79). Contoh numeralia: satu, dua, tiga, sembilan, esa, nol, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Adverbia merupakan “kategori yang dapat mendampingi ajektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaktis” (Kridalaksana, 1994: 81). Contoh adverbia: mulai pada kalimat “Rambutnya mulai ikal”, akan pada kalimat “Dewi akan gemas melihat anak lucu itu”, sering pada kalimat “Dia sering membolos dari pekerjaan”, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Interogativa merupakan “kategori dalam kalimat interogatif yang berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan apa yang telah diketahui pembicara. Apa yang ingin diketahui dan apa yang dikukuhkan itu disebut anteseden. Anteseden tersebut selamanya ada di luar wacana, karena baru akan diketahui kemudian, interogativa bersifat kataforis” (Kridalaksana, 1994: 88).  Contoh interogativa: apa, bila, bukan, kapan, mana, masa, apabila, apakah, bilamana, kenapa, mengapa, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Demonstrativa merupakan “kategori yang berfungsi untuk menunjukkan sesuatu di dalam maupun  di luar wacana. Sesuatu itu disebut anteseden. Dari sudut bentuk dapat dibedakan antara (1) demonstrativa dasar, seperti: itu dan ini, (2) demonstrativa turunan, seperti: berikut, sekian, (3) demonstrativa gabungan, seperti: di sini, ini itu, di sana-sini” (Kridalaksana, 1994: 92).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Artikula dalam bahasa Indonesia merupakan “kategori yang mendampingi nomina dasar (misalnya si kancil, sang dewa, para pelajar), nomina deverbal (misalnya si terdakwa, si tertuduh), pronominal (misalnya si dia, sang aku), verba pasif (misalnya kaum tertindas, si tertindas), dalam konstruksi eksosentris yang berkategori nominal. Artikula berupa partikel, jadio tidak dapat berafiksasi” (Kridalaksana, 1994: 94).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Preposisi merupakan “kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frase eksosentris direktif” (Kridalaksana, 1994: 95). Contoh preposisi: di, ke, dari, sejak, hingga, sampai, antara, dengan, demi, karena, kepada, akibat, bagi, dalam, guna, kecuali, lewat, oleh, pada, sebagai, untuk, waktu, tanpa, tentang, seperti, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Konjungsi merupakan “kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi. Konjungsi menghubungkan bagian-bagian ujaran yang setataran maupun yang tidak setataran. Keanekaragaman bahasa menyebabkan beberapa konjungsi sulit dibedakan dari preposisi” (Kridalaksana, 1994: 102). Contoh konjungsi: agar, atau, dan, jika, maka, supaya, yakni, yang, yaitu, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Interjeksi merupakan “kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara; dan secara sintaktis tidak berhubungan dengan kata-kata lain dalam ujaran. Interjeksi bersifat ekstrakalimat dan selalu mendahului ujaran sebagai teriakan yang lepas atau berdiri sendiri” (Kridalaksana, 1994: 120). Contoh interjeksi: aduh, aduhai, ah, amboi, ayo, bah, eh, hai, ih, lho, oh, nah, sip, wah, wahai, astaga, alhamdulillah, buset, syukur, halo, dan lain-lain.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Kata Berimbuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Kata berimbuhan merupakan satuan bahasa yang telah dilekati afiks, yaitu “suatu satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan mekekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru” (Ramlan, 1987: 55).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan hasil penelitian terhadap bentuk-bentuk kata dalam bahasa Indonesia, afiks terbagi menjadi empat jenis, yaitu prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks. Prefiks merupakan afiks yang melekat di depan bentuk dasar. Contohnya: ber-, se-, me-, di-, ter-, ke-, pe-, dan per-. Infiks merupakan afiks yang melekat di tengah kata. Contohnya: -el-, -em-, dan -er-. Sufiks merupakan afiks yang melekat di belakang kata. Contohnya: -i, -kan, dan –an. Sedangkan konfiks merupakan afiks tunggal yang terjadi dari dua unsur yang terpisah. Contohnya: ke-an, peN-an, per-an, dan ber-an.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Kata Majemuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Kata majemuk merupakan gabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. Gabungan dua kata ini, keduanya dapat berperan sebagai unsur atau salah satu katanya saja yang berperan sebagai unsur. Contoh kata majemuk yang keduanya berperan sebagai unsur:  rumah sakit, meja makan, kamar gelap, mata pelajaran, dan mata kaki. Sedangkan kata majemuk yang hanya memiliki satu kata sebagai unsurnya terdapat pada contoh berikut: daya tahan, kamar tunggu, kamar kerja, ruang baca, kolam renang, jarak tembak, ikat pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kata majemuk memiliki beberapa ciri, antara lain: 1) salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata, yaitu “satuan gramatik yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa dan secara gramatik tidak memiliki sifat bebas, yang dapat dijadikan bentuk dasar bagi sesuatu kata” (Ramlan, 1987: 78); dan 2) unsur-unsurnya tidak mungkin dipisahkan, atau tidak mungkin diubah strukturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Kata Ulang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Kata ulang merupakan kata yang terjadi sebagai hasil proses pengulangan atau reduplikasi, yaitu hasil pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Oleh karena itu, kata ulang lazim dibedakan menjadi lima jenis kata ulang, yaitu 1) kata ulang penuh, yaitu kata ulang yang merupakan hasil pengulangan seluruh satuan gramatik, artinya seluruh bentuk dasar mengalami proses pengulangan, misalnya: meja-meja, kebaikan-kebaikan, dan pertempuran-pertempuran; 2) kata ulang sebagian, yaitu kata ulang yang merupakan hasil pengulangan sebagian satuan gramatik, misalnya: lelaki (dari bentuk dasar laki), mengambil-ambil, dan terbauk-batuk; 3) kata ulang yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, yaitu kata ulang yang terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi, misalnya: kereta-keretaan, anak-anakan, dan gunung-gunungan; 4) kata ulang variasi fonem, yaitu kata ulang yang merupakan hasil pengulangan bentuk dasar yang mengalami perubahan bunyi, misalnya: bolak-balik, gerak-gerik, serba-serbi, lauk-pauk, ramah-tamah, dan sayur-mayur; dan 5) kata ulang semu, yaitu sejenis bentuk kata yang tampak sebagai hasil reduplikasi, tetapi tidak jelas bentuk dasarnya, misalnya: kura-kura, kupu-kupu, dan lumba-lumba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan dalam linguistik Indonesia pun ternyata sudah lazim digunakan sejumlah istilah yang berhubungan dengan kata ulang (reduplikasi) yaitu dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Istilah-istilah itu adalah: “(a) dwilingga, yakni pengulangan morfem dasar, seperti meja-meja, kakek-kakek, dan rumah-rumah; (b) dwilingga salin saura, yakni pengulangan morfem dasar dengan perubahan vokal dan fonem lainnya, seperti bolak-balik, langak-longok, dan mondar-mandir; (c) dwipurwa, yakni pengulangan silabel (suku kata) pertama, seperti lelaki, peparu, dan pepatah; (d) dwiwasana, yakni pengulangan pada akhir kata, seperti cengengesan; dan (e) trilingga, yakni pengulangan morfem dasar sampai dua kali, seperti dag-dig-dug, cas-cis-cus, dan ngak-ngik-ngok” (Chaer, 1994: 183).&lt;br /&gt;	 &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Kompetensi Kalimat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Kompetensi kalimat merupakan kemampuan yang berkaitan dengan pemahaman tentang jenis-jenis kalimat, unsur-unsur kalimat, pembakuan kalimat, dan efektivitas kalimat. Keempat kompetensi ini memiliki cakupan yang berbeda dan perlu pula mendapat pengkajian secara mendalam dalam berbagai sumber yang berkaitan dengan sintaksis.&lt;br /&gt;	 &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Jenis-jenis Kalimat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Kalimat merupakan “satuan gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik” (Ramlan, 1995: 27). Kalimat dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan berbagai dasar penggolongan. Namun, pada dasarnya kalimat dapat dibedakan berdasarkan dua dasar penggolongan, yaitu berdasarkan bentuk dan nilai komunikatifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;a. Kalimat Berdasarkan Bentuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan bentuknya, kalimat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal merupakan kalimat yang terbentuk oleh satu klausa bebas, sedangkan kalimat majemuk merupakan kalimat yang terbentuk oleh beberapa klausa bebas. Kedua jenis kalimat ini dapat dilihat pada contoh berikut.&lt;br /&gt;(6)	Saya mengajar bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;(7)	Saya mengajar bahasa Indonesia, sedangkan istri saya mengajar bahasa Inggris.&lt;br /&gt;Kalimat (6) terdiri atas satu buah klausa dengan subjek saya, predikat mengajar, dan objek bahasa Indonesia, sedangkan kalimat (7) terdiri atas dua buah klausa. Klausa pertama “Saya mengajar bahasa Indonesia” dengan subjek saya, predikat mengajar, dan objek bahasa Indonesia. Dan klausa kedua “istri saya mengajar bahasa Inggris” dengan subjek istri saya, predikat mengajar, dan objek bahasa Inggris. Dengan demikian, kalimat (6) merupakan kalimat tunggal karena hanya memiliki satu buah klausa dan kalimat (7) merupakan kalimat majemuk karena memiliki dua buah klausa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kalimat tunggal ini ternyata dapat dibedakan berdasarkan kategori kata atau frase yang menduduki fungsi predikatnya menjadi lima jenis, yaitu 1) kalimat tunggal berpredikat frase nominal; 2) kalimat tunggal berpredikat frase ajektival; 3) kalimat tunggal berpredikat frase verbal; 4) kalimat tunggal berpredikat frase numeralia; dan 5) kalimat tunggal berpredikat frase preposisional. Kelima jenis kalimat tunggal ini dapat dilihat dalam contoh berikut.&lt;br /&gt;(8)	Gadis cantik berambut panjang yang duduk paling depan kekasihku.&lt;br /&gt;(9)	Hasil ujiannya sangat memuaskan.&lt;br /&gt;(10)	Mahasiswa sedang mengerjakan soal ujian dengan tekun.&lt;br /&gt;(11)	Mahasiswanya empat puluh orang.&lt;br /&gt;(12)	Orang tuanya di rumah.&lt;br /&gt;Kalimat (8) merupakan kalimat tunggal berpredikat nominal karena “kekasihku” yang berfungsi sebagai predikat merupakan frase nominal. Kalimat (9) merupakan kalimat tunggal berpredikat frase ajektival karena “sangat memuaskan” yang berfungsi sebagai predikat merupakan frase ajektiva. Kalimat (10) merupakan kalimat tunggal berpredikat frase verbal karena “sedang mengerjakan” yang berfungsi sebagai predikat merupakan frase verbal. Kalimat (11) merupakan kalimat tyunggal berpresdikat frase numeralia karena “empat puluh orang” yang berfungsi sebagai predikat merupakan frase numeralia. Dan kalimat (12) merupakan kalimat tunggal berpredikat frase preposisional karena “di rumah” yang berfungsi sebagai predikat merupakan frase preposisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan kalimat majemuk pun dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu 1) kalimat majemuk setara; dan 2) kalimat majemuk bertingkat. Kalimat majemuk setara (koordinatif) merupakan “kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, yang setara, atau yang sederajat” (Chaer, 1994: 244). Klausa-klausa dalam kalimat majemuk setara ini secara eksplisit dihubungkan dengan konjungsi koordinatif, seperti: dan, atau, tetapi, dan lalu; namun, tak jarang hubungan itu hanya secara implisit, artinya tanpa menggunakan konjungsi. Berikut disajikan contoh kalimat majemuk setara.&lt;br /&gt;(13)	Nenek melirik, kakek tersenyum, dan adik tertawa terbahak-bahak.&lt;br /&gt;(14)	Kita pergi sekarang atau kita akan kehabisan karcis.&lt;br /&gt;(15)	Gadis itu membuka pintu, tetapi membiarkanku berdiri di luar.&lt;br /&gt;(16)	Gadis itu membuka pintu, lalu mempersilakan masuk.&lt;br /&gt;(17)	Saya ingin turut serta, sayang, ibu tidak mengijinkan.&lt;br /&gt;Dan kalimat majemuk bertingkat (subordinatif) merupakan “kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausanya tidak setara atau sederajat; klausa yang satu merupakan klausa atasan, dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan” (Chaer, 1994: 244). Klausa-klausa ini biasanya secara eksplisit dihubungkan dengan konjungsi subordinatif, seperti: kalau, ketika, meskipun, dan karena; namun, sering juga hubungan ini dilakukan secara implisit. Berikut disajikan contoh kalimat majemuk bertingkat.&lt;br /&gt;(18)	Kalau nenek pergi, kakek pun akan pergi.&lt;br /&gt;(19)	Nenek membaca komik ketika kakek tidak ada di rumah.&lt;br /&gt;(20)	Meskipun dilarang oleh kakek, nenek pergi juga ke salon.&lt;br /&gt;(21)	Karena banyak yang tidak datang, rapat dibatalkan.&lt;br /&gt;(22)	Dia menjumpai orang yang pernah menolong anaknya yang nomor dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;b. Kalimat Berdasarkan Nilai Komunikatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Dan berdasarkan nilai komunikatifnya, kalimat dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi lima jenis, yaitu “(1) kalimat berita (deklaratif), (2) kalimat Tanya (interogatif), (3) kalimat perintah (imperatif), (4) kalimat seruan (ekslamatif), dan (5) kalimat penegas (empatik)” (Rahardi, 2005: 74).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kalimat deklaratif dalam bahasa Indonesia merupakan kalimat yang mengandung maksud memberitakan sesuatu kepada lawan tutur. Sesuatu yang diberitakannya, umumnya, merupakan pengungkapan suatu peristiwa atau suatu kejadian, baik dalam bentuk tuturan langsung maupun tidak langsung. Misalnya terdapat dalam kalimat berikut.&lt;br /&gt;(23)	Ibu menyahut, “Desi akan segera pulang dari Jepang bulan depan.”&lt;br /&gt;(24)	Ibu menyahut dengan mengatakan bahwa Desi akan segera pulang dari Jepang bulan depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kalimat interogatif merupakan kalimat yang mengandung maksud menanyakan sesuatu kepada lawan tutur. Dalam bahasa Indonesia, terdapat lima cara mewujudkan tuturan interogatif, yaitu “(1) dengan membalik urutan kalimat, (2) dengan menggunakan kata apa atau apakah, (3) dengan menggunakan kata bukan atau tidak, (4) dengan mengubah intonasi kalimat menjadi intonasi tanya, dan (5) dengan menggunakan kata-kata tertentu” (Rahardi, 2005: 77). Contoh kelima cara mewujudkan kalimat tanya ini dapat dilihat dalam kalimat berikut.&lt;br /&gt;(25)	Di atas meja buku milikmu?&lt;br /&gt;(26)	Apakah buku milikmu di atas meja?&lt;br /&gt;(27)	Buku milikmu di atas meja, bukan?&lt;br /&gt;(28)	Buku milikmu di atas meja?&lt;br /&gt;(29)	Di mana buku milikmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kalimat imperatif merupakan kalimat yang mengandung maksud memerintah atau meminta agar lawan tutur melakukan sesuatu hal yang diinginkan penutur. Kalimat imperatif dalam bahasa Indonesia secara formal dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis, yaitu “(1) kalimat imperatif biasa, (2) kalimat imperatif permintaan, (3) kalimat imperatif pemberian izin, (4) kalimat imperatif ajakan, dan (5) kalimat imperatif suruhan” (Rahardi, 2005: 79). Contoh kelima jenis kalimat imperatif ini terdapat dalam kalimat berikut.&lt;br /&gt;(30)	Deani, lihat!&lt;br /&gt;(31)	Diharapkan dengan sangat agar pengunjung tidak merokok di ruangan ini!&lt;br /&gt;(32)	Mas, masuklah ke dalam, jika mau bertemu dengan orang tuaku! &lt;br /&gt;(33)	Ayo, naik motorku saja!&lt;br /&gt;(34)	Coba keraskan volume radionya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kalimat ekslamatif merupakan kalimat yang dimaksudkan untuk menyatakan rasa kagum. Untuk merumuskan kalimat ekslamatif, sebaiknya memperhatikan ketentuan berikut: “(1) susunan kalimat dibuat inversi, (2) partikel -nya melekat pada predikat yang terletak di depan subjek, (3) kata seru alangkah dan bukan main diletakkan di posisi terdepan” (Rahardi, 2005: 85). Contoh kalimat ekslamatif ini adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;(35)	Bukan main cantiknya gadis berambut panjang itu! &lt;br /&gt;	Dan kalimat empatik merupakan kalimat yang di dalamnya terkandung maksud memberikan penekanan khusus. Dalam bahasa Indonesia, penekakan khusus ini, biasanya, dikenakan pada bagian subjek kalimat. Penekanan khusus ini dapat dilakukan dengan cara: “(1) menambahkan partikel -lah pada subjek, dan (2) menambahkan kata sambung yang di belakang subjek” (Rahardi, 2005: 86). Contoh kalimat empatik ini adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;(36)	Dewilah yang paling cocok menduduki jabatan itu.&lt;br /&gt;(37)	Para pelatihlah yang pertama kali harus mempertanggungjawabkan kekalahan kesebelasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Unsur-unsur Kalimat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Unsur-unsur kalimat  terbagi menjadi dua, yaitu unsur wajib dan unsur tidak wajib. Unsur wajib merupakan bagian kalimat yang tidak dapat dihilangkan, sedangkan unsur tidak wajib merupakan bagian kalimat yang dapat dihilangkan. Unsur wajib terdiri atas unsur predikat dan unsur subjek, sedangkan unsur tidak wajib terdiri atas unsur objek, unsur pelengkap, dan unsur keterangan. Kedua unsur kalimat ini secara berurutan dapat dilihat dalam contoh berikut.&lt;br /&gt;(38)	Membeli.&lt;br /&gt;(39)	Dewi membeli baju baru. &lt;br /&gt;(40)	Dewi membelikan adiknya baju baru.&lt;br /&gt;(41)	Hari ini Dewi membelikan adiknya baju baru.&lt;br /&gt;Keempat kalimat itu memiliki unsur-unsur yang berbeda. Kalimat (37) hanya memiliki satu unsur, yaitu predikat saja. Kalimat (38) memiliki tiga unsur, yaitu subjek, predikat, dan objek. Kalimat (39) memiliki empat unsur, yaitu subjek, predikat, objek, dan pelengkap. Dan kalimat (40) memiliki lima unsur, yaitu keterangan, subjek, predikat, objek, dan pelengkap. &lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Pembakuan dan Efektivitas Kalimat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Pembakuan dan efektivitas kalimat merupakan dua kompetensi yang termasuk ke dalam kompetensi kebahasaan. Kedua kompetensi ini berkaitan dengan dua kompetensi, yaitu 1) penggunaan bahasa baku, dan 2) penggunaan bahasa yang baik dan benar. Bahasa baku merupakan ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian warga masyarakat pemakainya sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya, sedangkan bahasa yang baik dan benar merupakan bahasa yang sesuai dengan konteks dan mengikuti kaidah-kaidah penggunaan bahasa yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan efektivitas kalimat berkaitan dengan penggunaan kalimat efektif, yaitu kalimat yang benar-benar mencerminkan maksud penutur dengan menggunakan kata-kata efisien, populer, dan disampaikan secara langsung atau tidak berbelit-belit. Oleh karena itu, efektivitas kalimat hanya dapat diwujudkan bila penutur bahasa telah menguasai kaidah sintaksis, kaidah makna, dan kaidah sosial.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-6810457161770964317?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/6810457161770964317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/pragmatik-dan-kompetensi-kebahasaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/6810457161770964317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/6810457161770964317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/pragmatik-dan-kompetensi-kebahasaan.html' title='Pragmatik dan Kompetensi Kebahasaan'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-2768815606997475428</id><published>2010-03-19T07:48:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T07:52:35.156-07:00</updated><title type='text'>Pragmatik</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Pengertian Pragmatik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Sebagai ilmu kajian bahasa, linguistik memiliki berbagai cabang ilmu, antara lain: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Fonologi merupakan cabang linguistik yang mengkaji seluk-beluk bunyi bahasa. Morfologi merupakan cabang linguistik yang mengkajiseluk-beluk morfem dan penggabungannya. Sintaksis merupakan cabang linguistik yang mengkaji penggabungan satuan-satuan lingual berupa kata yang dapat membentuk satuan kebahasaan lebih besar, seperti: frase, klausa, kalimat, dan wacana. Semantik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna satuan-satuan lingual, baik makna leksikal maupun gramatikal. Sedangkan pragmatic merupakan cabang linguistik yang mengkaji struktur bahasa secara eksternal, yakni penggunaan satuan kebahasaan dalam komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dari kelima cabang linguistik tersebut, terdapat dua cabang yang menjadikan makna satuan bahasa sebagai objek kajiannya. Kedua cabang linguistik itu adalah semantik dan pragmatik. Semantik mengkaji makna-makna satuan lingual secara internal. Sedangkan pragmatik mengkaji makna-makna satuan lingual secara eksternal. Perbedaan cara pengkajian makna dalam semantik dan pragmatik ini dapat dilihat dalam contoh kalimat berikut.&lt;br /&gt;(1)	Keterampilan berbicaranya yang sangat bagus, menjadikan ia juara pidato.&lt;br /&gt;(2)	Ayah	: Bagaimana ujian bahasamu?&lt;br /&gt;Badu	: Wah, dapat 50, Yah!&lt;br /&gt;Ayah	: Bagus, besok main PS saja, ya! &lt;br /&gt;Kata bagus, pada kalimat (1) dan (2) memiliki makna yang berbeda. Perbedaan ini terjadi karena makna kata bagus pada kalimat (1) dikaji secara internal, sehingga bermakna “baik” atau “tidak buruk”. Sedangkan pada kalimat (2), kata bagus harus dikaji secara eksternal, sehingga tidak lagi bermakna “baik” atau “tidak buruk”, tetapi bermakna sebaliknya dan biasa digunakan untuk menyindir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Bertolak pada perbedaan cara pengkajian dalam semantik dan pragmatik yang mengkaji makna secara internal dan eksternal, berikut disajikan beberapa pengertian pragmatik dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;1.	Menurut F. H. George dalam Semantics;&lt;br /&gt;Pragmatik atau semantik behavioral menelaah perilaku insan, terutama sekali dalam hubungannya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insan berperilaku dalam keseluruhan situasi pemberian tanda dan penerimaan tanda (George, 1964: 31).&lt;br /&gt;2.	Menurut Madelon E. Heatherington dalam How Language Works;&lt;br /&gt;Pragmatik menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan terutama sekali memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosialperformansi bahasa yang dapat mempengaruhi tafsiran atau interpretasi. Pragmatik menelaah bukan saja pengaruh-pengaruh fonem suprasegmental, dialek, dan register, tetapi justru memandang performansi ujaran sebagai suatu kegiatan sosial yang ditata oleh aneka ragam konvensi sosial. Dan para teoritikus pragmatik telah mengidentifikasi adanya tiga jenis prinsip kegiatan ujaran, yaitu kekuatan ilokusi, prinsip-prinsip percakapan, dan presuposisi (Heatherington, 1980: 155).&lt;br /&gt;3.	Menurut C. W. Morris dalam Foundations of the Theory for Sign;&lt;br /&gt;Pragmarik adalah telaah mengenai hubungan tanda-tanda dengan para penafsir (Morris, 1938: 6).&lt;br /&gt;4.	Menurut Stephen C. Levinson dalam Pragmatics;&lt;br /&gt;Pragmatik adalah telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa (Levinson, 1980: 1).&lt;br /&gt;5.	Menurut Geoffrey N. Leech dalam Principles of Pragmatics;&lt;br /&gt;Pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa mengkaji penggunaan bahasa yang berintegrasi dengan tata bahasa yang terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik (Leech, 1983: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna satuan bahasa berupa fonem, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana yang digunakan penutur dengan memperhatikan situasi tutur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Sumber Kajian Pragmatik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Dengan mencermati uraian dan berbagai pengertian pada bagian 1.1, terlihat jelas bahwa makna yang dikaji semantik dan pragmatik berbeda. Semantik mengkaji makna yang bebas konteks, sedangkan pragmatik mengkaji makna yang terikat konteks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dengan demikian, sumber kajian semantik dan pragmatik pun berbeda. Semantik menjadikan makna internal yang bersifat bebas konteks (context independent) sebagai sumber kajian. Sedangkan sumber kajian pragmatik merupakan dikotomi dari sumber kajian semantik, yaitu makna eksternal yang bersifat terikat konteks (context dependent).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan bila dicermati secara mendalam, makna yang menjadi sumber kajian semantik merupakan makna linguistik (linguistic meaning) atau speaker sense. Hal ini berarti bahwa, makna yang dikaji semantik bersifat diadis, yaitu makna yang dapat dirumuskan dengan kalimat “Apa makna x itu?”, sedangkan makna yang dikaji pragmatik bersifat triadis, yaitu makna yang dapat dirumuskan dengan kalimat “Apakah yang kau maksud dengan berkata x itu?”. Dalam bahasa Inggris, kedua konsep makna itu dapat dibedakan dengan kalimat “What does x mean?” dan “What do you mean by x?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Analisis Pragmatik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Analisis pragmatik merupakan pengkajian suatu kalimat atau wacana dengan mempertimbangkan situasi tutur yang dapat melahirkan kesimpulan tersirat dalam kalimat atau wacana tersebut. Analisis pragmatik ini dapat dilihat dalam wacana berupa teks iklan bumbu masak nasi goring Kokita berikut.&lt;br /&gt;(3)	Regu tembak		: Coba katakan, apa permintaan terakhirmu?&lt;br /&gt;(4)	Tahanan			: Nasi goring Kokita.&lt;br /&gt;(5)	Regu tembak dan tahanan	: Hm! (Makan nasi goreng bersama-sama)&lt;br /&gt;Dari teks iklan tersebut, secara analisis pragmatik diperoleh kesimpulan bahwa nasi goreng dengan bumbu masak Kokita sangat lezat. Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan hasil perbandingan teks tersebut dengan kenyataan di lapangan yang menunjukkan bahwa, bila seorang tahanan yang akan menjalani eksekusi di depan regu tembak ditanyai tentang permitaan terakhirnya, maka jawaban yang disampaikannya adalah “Ingin bertemu dengan keluarga atau teman terdekat”. Namun, dalam teks iklan itu ternyata tahanan menjawab “Nasi goreng Kokita”.Hal ini menunjukkan bahwa, makan nasi goreng dengan bumbu masak Kokita dipandang lebih penting daripada bertemu dengan anak dan istri. Jadi dalam teks iklan itu diungkapkan secara tersirat bahwa, bumbu masak Kokita sangat lezat, sehingga dapat melupakan anak dan istri, serta kedudukan dan kewajiban regu tembak terlupakan karena ikut menikmati nasi goreng dengan bumbu masak Kokita yang diminta tahanannya. Dengan demikian, jawaban “Nasi goreng Kokita” yang diungkapkan tahanan, bukanlah sekedar informasi biasa, tetapi merupakan informasi yang memiliki daya persuasi yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;D. Analisis Linguistik Struktural&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Berbeda dengan analisis pragmatik yang mengkaji suatu kalimat atau wacana dengan mempertimbangkan situasi tutur, analisis linguistik struktural merupakan pengkajian suatu kalimat atau wacana dengan menjadikan bentuk-bentuk lingual tanpa mempertimbangkan situasi tutur sebagai dasar pengkajian, sehingga penganalisisannya bersifat formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Bila teks iklan pada bagian 1.3 dianalisis secara linguistik struktural, setidak-tidaknya akan diperoleh kesimpulan bahwa dalam teks iklan itu terdapat:&lt;br /&gt;1.	klausa interogatif-informatif, yaitu pada kalimat “Coba katakan, apa permintaan terakhirmu?” dengan penanda perintah “coba”, predikat “katakan”, kata Tanya “apa” sebagai predikat, dan subjeknya “permintaan terakhirmu”.&lt;br /&gt;2.	kalimat jawaban, yaitu pada kalimat “Nasi goreng Kokita.” berupa frase nomina atributif yang menduduki fungsi predikat.&lt;br /&gt;3.	kalimat minor, yaitu pada kalimat “Hm!” berupa kalimat seru yang terdiri atas interjeksi.&lt;br /&gt;Dan bila diteruskan dengan menggunakan analisis gramatika secara formal, biasanya penganalisisan secara linguistik struktural itu akan dilanjutkan pada tataran subklausa, kata, dan morfem. Analisis formal seperti ini tidak akan menangkap maksud penulisan teks iklan tersebut, bila pendekatan pragmatik untuk melengkapinya tidak digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-2768815606997475428?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/2768815606997475428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/pragmatik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/2768815606997475428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/2768815606997475428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/pragmatik.html' title='Pragmatik'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-3638297552379981927</id><published>2010-03-19T07:44:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T07:47:18.072-07:00</updated><title type='text'>Metode Latihan</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Pengertian Metode Latihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Metode merupakan “cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan” (Depdikbud, 1996: 652).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Oleh karena itu, pemilihan dan penentuan metode yang digunakan dalam proses pembelajaran harus dilakukan dengan memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. harus dapat membangkitkan motif, minat atau gairah belajar siswa;&lt;br /&gt;2. harus dapat menjalin perkembangan kegiatan kepribadian murid;&lt;br /&gt;3. harus dapat memberikan kesempatan bagi ekspresi yang kreatif dari kepribadian murid;&lt;br /&gt;4. harus dapat merangsang kegiatan murid untuk belajar lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi;&lt;br /&gt;5. harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dengan cara memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi;&lt;br /&gt;6. harus dapat meniadakan perjanjian yang bersifat verbalitas dan menggantinya dengan pengamalan atau situasi yang nyata dan bertujuan (Depdiknas, 2002: 38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Syarat-syarat tersebut berlaku pula dalam penentuan dan pemilihan metode pengajaran bahasa Indonesia. Hal ini didasari suatu alasan bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia pun dikenal berbagai metode pengajaran bahasa, antara lain metode fonetik, metode terjemahan, metode tata bahasa, metode latihan dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Metode latihan, sebagai salah satu metode yang dapat dipilih dan digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia merupakan “metode yang sangat sesuai untuk melatih keterampilan, baik keterampilan fisik maupun keterampilan mental” (Depdikbud, 1996: 18). &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Langkah-langkah Metode Latihan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Metode latihan sangat sesuai untuk melatih keterampilan, baik keterampilan fisik maupun keterampilan mental. Metode ini berhubungan dengan pembentukan asosiasi-asosiasi mental yang siap untuk direproduksi. Oleh karena itu, pelaksanaan metode ini harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Sebelum latihan dilaksanakan, siswa harus diberi penjelasan mengenai arti atau manfaat dan tujuan dari latihan tersebut.&lt;br /&gt;2. Latihan hendaknya dilakukan secara bertahap, dimulai dari yang sederhana kemudian ke taraf yang lebih kompleks atau sulit.&lt;br /&gt;3. Prinsip-prinsip dasar pengerjaan latihan hendaknya telah diberikan kepada anak.&lt;br /&gt;4. Selama latihan berlangsung, perhatikanlah bagian-bagian mana yang sebagian besar anak-anak dirasakan sulit.&lt;br /&gt;5. Latihlah bagian-bagian yang dipandang sulit itu lebih intensif.&lt;br /&gt;6. Perbedaan individual anak perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;7. Jika suatu latihan telah dikuasai anak-anak, taraf berikutnya adalah aplikasi (Depdikbud, 1996: 18).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, metode latihan yang berhubungan dengan pembentukan asosiasi-asosiasi mental yang siap untuk direproduksi tersebut, mencerminkan bahwa asosiasi-asosiasi mental itu berhubungan dengan empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa ini merupakan satu kesatuan yang merupakan catur tunggal dan berhubungan erat dengan proses-proses yang mendasari bahasa. Hal ini sesuai dengan pendapat Henry Guntur Tarigan dalam Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa yang menyatakan bahwa:&lt;br /&gt;Keterampilan berbahasa berhubungan erat dengan proses-proses yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir (Tarigan, 1982: 1).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Oleh karena itu, dalam pembelajaran mengarang yang merupakan bagian dari pembelajaran bahasa Indonesia, metode latihan merupakan metode yang sangat penting. Pembelajaran mengarang ini menuntut latihan yang cukup, teratur, dan pembelajaran yang berprogram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut Peck &amp; Schulz (1969) dalam Tarigan (1982: 9), program-program dalam bahasa tulis direncanakan untuk mencapai tujuan-tujuan berikut.&lt;br /&gt;1. Membantu para siswa memahami bagaimana caranya ekspresi tulis dapat melayani mereka, dengan jalan menciptakan situasi-situasi di dalam kelas yang jelas memerlukan karya tulis dan kegiatan menulis.&lt;br /&gt;2. Mendorong para siswa mengekspresikan diri mereka secara bebas dalam tulisan.&lt;br /&gt;3. Mengajar para siswa menggunakan bentuk yang tepat dan serasi dalam ekspresi tulis.&lt;br /&gt;4. Mengembangkan pertumbuhan bertahap dalam menulis dengan cara membantu para siswa menulis sejumlah maksud dengan sejumlah cara dengan penuh keyakinan pada diri sendiri secara bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, Albert (1961) dalam Tarigan (1982:10) menjelaskan beberapa langkah sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Daftarkan pada sehelai kertas segala detail atau bagian kecil-kecil yang dapat dikumpulkan mengenai topik pembicaraan.&lt;br /&gt;2. Susunlah detail-detail tersebut dengan baik, misalnya menggunakan klasifikasi.&lt;br /&gt;3. Buatlah suatu bagan (outline) paragraf.&lt;br /&gt;4. Tulislah paragraf sesuai dengan bagan.&lt;br /&gt;5. Akhirilah paragraf dengan suatu kalimat yang sesuai sebagai penutup.&lt;br /&gt;6. Tutup atau akhirilah paragraf dengan suatu judul yang menarik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-3638297552379981927?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/3638297552379981927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/metode-latihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/3638297552379981927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/3638297552379981927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/metode-latihan.html' title='Metode Latihan'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-8426752501131805246</id><published>2010-03-19T07:05:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T07:43:03.424-07:00</updated><title type='text'>Karangan</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Pengertian Karangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Karangan sering didefinisikan sebagai “simbol-simbol grafis yang menyatakan pemakaian suatu bahasa sedemikian rupa sehingga orang lain dapat membaca simbol-simbol grafis itu sebagai bagian penyajian satuan-satuan ekspresi bahasa” (Ahmadi, 1989: 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Sejalan dengan pendapat tersebut, A. Widyamartaya dalam Seni Menuangkan Gagasan mengungkapkan bahwa, “karangan dapat kita pahami sebagai wujud dari seluruh rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan yang disampaikan melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksudkan oleh pengarang” (Widyamartaya, 1993: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan kedua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa karangan adalah hasil pengungkapan gagasan berdasarkan hasil penelitian yang dinyatakan dalam simbol-simbol grafis, sehingga dapat dipahami pembaca sesuai dengan maksud pengarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Jenis-jenis Karangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Bila ditinjau dari cara penyampaian isinya, karangan dapat dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu karangan narasi, eksposisi, persuasi, argumentasi, dan deskripsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Karangan narasi adalah “semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu peristiwa atau kejadian, sehingga peristiwa itu tampak seolah-olah dialami sendiri oleh para pembaca” (Keraf, 1995: 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Karangan eksposisi adalah “suatu bentuk wacana yang berusaha menguraikan suatu objek, sehingga dapat memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca” (Keraf, 1995: 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Karangan persuasi adalah “karangan yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki pengarang pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang” (Keraf, 1987: 118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Karangan argumentasi adalah “suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan penulis atau pembicara” (Keraf, 2001: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan karangan deskripsi adalah “semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu objek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan pembaca melihat sendiri objek itu” (Keraf, 1995: 16).&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Bagian-bagian Karangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Karangan yang ditulis dalam jenis apapun, pada umunya memiliki bagian-bagian utama yang dapat memudahkan pembaca dalam memahami maksud atau isi karangan tersebut. Bagian-bagian utama ini pada umumnya berupa bagian pendahuluan, isi, dan penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Bagian pendahuluan merupakan bagian yang pertama kali dibaca pembaca. Pada bagian ini pengarang harus berupaya “menyajikan latar belakang, ruang lingkup, batasan pengertian topik, permasalahan dan tujuan penulisan kerangka acuan yang digunakan” (Keraf, 1995: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Bagian isi merupakan bagian terpenting dari seluruh karangan. Isi bagian ini sangat bergantung pada jenis karangan yang digunakan. Agar isi karangan benar-benar dapat dipahami pembaca, maka bagian ini harus disajikan secara jelas dan teratur. Oleh karena itu, sebelum menulis sebuah karangan, perumusan kerangka karangan merupakan langkah awal yang tidak boleh dilupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan bagian penutup merupakan kesimpulan dari hal-hal yang telah dideskripsikan pada bagian isi karangan. Kesimpulan yang dirumuskan pengarang pun sangat bergantung pada jenis karangan yang dipilihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;D. Kerangka Karangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;	Menurut Gorys Keraf dalam Komposisi, “Kerangka karangan adalah suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap” (Keraf, 1993: 132).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kerangka karangan tersebut akan mempermudah pengarang untuk menuangkan gagasan-gagasannya secara logis dan teratur. Kelogisan dan keteraturan karangan ini akan terwujud jika pengarang memperhatikan masalah kohesi dan koherensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kohesi adalah “keserasian hubungan antar unsur yang satu dengan unsur yang lain” (Moeliono, 1993: 343). Dan koherensi adalah “hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur kata atau kelompok kata yang membentuk kalimat” (Keraf, 1993: 38).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dengan demikian, kerangka karangan dan masalah kohesi serta koherensi dalam pembelajaran mengarang, mutlak perlu ditanamkan pada diri peserta didik sejak dini, sehingga mereka terbiasa menuangkan gagasannya secara jelas dan logis.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-8426752501131805246?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/8426752501131805246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/karangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/8426752501131805246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/8426752501131805246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/karangan.html' title='Karangan'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-8010833583438136509</id><published>2010-03-17T09:07:00.001-07:00</published><updated>2010-03-19T07:57:58.179-07:00</updated><title type='text'>Unsur-unsur Fiksi</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A. Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aminuddin dalam Pengantar Apresiasi Karya Sastra menjelaskan bahwa “Sebagai salah satu genre sastra, karya fiksi mengandung unsur-unsur, meliputi: (1) pengarang atau narator, (2) isi penciptaan, (3) media penyampai isi berupa bahasa, dan (4) elemen-elemen fiksional atau unsur-unsur intrinsik yang membangun karya fiksi itu sendiri sehingga menjadi suatu wacana” (Aminuddin, 1995: 66).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain keempat unsur tersebut, perlu diperhatikan bahwa dalam memaparkan isi penciptaan, pengarang akan melakukannya melalui berbagai cara, antara lain melalui penjelasan atau komentar, dialog maupun monolog, dan lakuan atau action. Cara penyampaian isi penciptaan ini, mutlak memerlukan unsur-unsur prosa fiksi yang terdiri atas lapis bentuk dan lapis makna.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lapis bentuk ini sering disebut struktur atau unsur intrinsik. Lapis bentuk ini terdiri atas plot atau alur, karakter atau karakterisasi, setting atau latar, point of view atau titik kisah, dan style atau gaya. Dan lapis maknanya terdiri atas pembayangan peristiwa yang akan terjadi atau foreshadowing, tegangan atau suspense, nada atau feeling, suasana atau tone, dan tema atau theme.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbeda halnya dengan pendapat Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi yang menjelaskan bahwa “Sebuah novel merupakan sebuah totalitas, suatu kemenyeluruhan yang bersifat artistik. Sebagai sebuah totalitas, novel mempunyai bagian-bagian, unsur-unsur yang saling berkaitan satu dengan yang lain secara erat dan saling menggantungkan” (Nurgiyantoro, 2002: 22). Menurutnya, meskipun unsur-unsur itu tidak dapat benar-benar dipilah, secara garis besar berbagai macam unsur itu dapat dikelompokkan secara tradisional menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Dan kedua unsur inilah yang paling sering disebut para kritikus ketika mengkaji atau membicarakan novel atau karya sastra.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B. Unsur Intrinsik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Unsur intrinsik (intrinsic) merupakan unsur-unsur yang secara langsung membangun karya sastra dan secara faktual akan dijumpai ketika membaca karya sastra itu. Unsur-unsur intrinsik ini antara lain terdiri atas: tema, tokoh dan karakteristiknya, dialog, latar, suasana, alur atau plot, peristiwa, cerita, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan secara tradisional, unsur-unsur intrinsik itu ternyata sering dibagi lagi menjadi dua, yaitu berdasarkan unsur bentuk dan isi. Pembagian ini merupakan pembagian dikotomis yang sebenarnya diterima orang dengan berbagai keberatan. Pembagian ini tampaknya sederhana, agak kasar, tetapi sebenarnya tidak mudah dilakukan. Hal ini dikarenakan, pada kenyataannya tidak mudah memasukkan unsur-unsur tertentu ke dalam unsur bentuk ataupun unsur isi, mengingat keduanya saling berhubungan. Bahkan, tidak mungkin rasanya bila membicarakan atau menganalisis salah satu unsur itu tanpa melibatkan unsur lain. Misalnya, unsur peristiwa dan tokoh dengan segala emosi dan perwatakannya merupakan unsur isi, namun masalah struktur pengurutan peristiwa secara linear dalam karya fiksi (plot) dan penokohan yang untuk sementara dibatasi pada teknik menampilkan tokoh dalam suatu karya fiksi tergolong unsur bentuk. Padahal, kenyataannya pembicaraan unsur plot dan penokohan tidak mungkin dilakukan tapa melibatkan unsur peristiwa dan tokoh. Oleh karena itu, pembedaan unsur tertentu ke dalam unsur bentuk atau isi, sebenarnya lebih bersifat teoritis di samping terlihat untuk menyederhanakan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;C. Unsur Ekstrinsik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Unsur kedua yang membangun karya fiksi adalah unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik (extrinsic) ini merupakan unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung turut mempengaruhi sistem organisme karya sastra. Seperti halnya unsure intrinsik, unsur ekstrinsik pun terdiri dari sejumlah unsur. Unsur-unsur yang dimaksud menurut Wellek dan Austin Waren (1956, 75-135) yang dikutip Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi “antara lain adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya yang ditulisnya” (Nurgiyantoro, 2002: 24). Atau dengan kata lain, unsur biografi pengarang akan turut menentukan corak karya yang dihasilkannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Unsur ekstrinsik berikutnya adalah psikologi, baik berupa psikologi pengarang yang mencakup proses kreativitas pengarang, psikologi pembaca, maupun penerapan prinsip psikologi dalam karyanya. Selain itu, keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial pun akan berpengaruh terhadap karya sastra, dan hal ini pun merupakan bagian dari unsur ekstrinsik. Serta pandangan hidup suatu bangsa, berbagai karya seni lain, dan dilihat dari sisi sumber ilmu pelengkap seperti paedagogi, sosiologi, psikologi, religi, politik, dan sebagainya termasuk ke dalam unsur ekstrinsik yang turut membangun suatu penciptaan karya sastra.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Renne Wellek dan Austin Waren yang dikutip Soedjiono dalam Pengetahuan dan Apresiasi Sastra, pengkajian terhadap unsur ekstrinsik karya sastra mencakup empat hal, yaitu:&lt;br /&gt;1. Mengkaji hubungan antara sastra dengan biografi atau psikologi pengarang. &lt;br /&gt;2. Mengkaji hubungan sastra dengan aspek-aspek politik, social, ekonomi, budaya, dan pendidikan.&lt;br /&gt;3. Mengkaji hubungan antara sastra dengan hasil-hasil pemikiran manusia seperti ideologi, filsafat, pengetahuan, dan teologi.&lt;br /&gt;4. Mengkaji hubungan antara sastra dengan semangat zaman, atmosfir atau iklim intelektual tertentu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-8010833583438136509?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/8010833583438136509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/unsur-unsur-fiksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/8010833583438136509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/8010833583438136509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/unsur-unsur-fiksi.html' title='Unsur-unsur Fiksi'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-8699754348069323237</id><published>2010-03-17T08:38:00.000-07:00</published><updated>2010-03-17T08:53:01.400-07:00</updated><title type='text'>Sastra</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1	Pengertian Sastra&lt;br /&gt;	Membuat batasan atau pengertian sastra secara tepat dan mencakup seluruh kebenaran tentang sastra merupakan suatu usaha yang sangat sulit. Kesulitan ini terjadi karena setiap usaha untuk membuat batasan sastra, selalu merupakan pemerian yang menggambarkan salah satu segi. 	&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Pernyataan tersebut dijelaskan oleh  Jakob Sumardjo dan Saini K. M. dalam Apresiasi Kesusastraan yang menyebutkan beberapa alasan yang mengakibatkan sulitnya membuat batasan sastra, antara lain:&lt;br /&gt;1.	Sastra bukan ilmu, sastra adalah seni. Dalam seni banyak unsur kemanusiaan yang masuk, khususnya perasaan, sehingga sulit diterapkan untuk metode keilmuan. Perasaan, semangat, kepercayaan, keyakinan sebagai unsur sastra sulit dibuat batasannya. &lt;br /&gt;2.	Sebuah batasan selalu berusaha mengungkapkan hakikat sebuah sasaran. Dan hakikat sesuatu itu sifatnya universal dan abadi. Padahal apa yang disebut sastra itu tergantung pada tempat dan waktu. Apa yang disebut karya sastra pada tahun 1920-an di Indonesia, mungkin lima puluh tahun kemudian kalau seseorang menulis karya semacam itu tidak dianggap sastra lagi. Atau seorang sastrawan Indonesia menulis sebuah karya sastra dan dianggap demikian di Indonesia, tetapi di Eropa karya semacam itu sudah tidak dianggap karya sastra lagi. &lt;br /&gt;3.	Sebuah batasan sastra sulit menjangkau hakikat dari semua jenis bentuk sastra. Sebuah batasan mungkin tepat untuk karya-karya sastra puisi, tetapi kurang tepat untuk jenis novel. Atau mungkin sebuah batasan bertolak dari karya-karya esei, sehingga tidak cocok untuk puisi. Sastra terdiri dari berbagai bentuk ungkapan yang berbeda wataknya satu sama lain. &lt;br /&gt;4.	Sebuah batasan tentang sastra biasanya tidak hanya berhenti pada membuat pemerian (deskripsi), tetapi juga suatu usaha penilaian. Inilah sebabnya sebuah batasan tentang sastra selalu mengacu kepada “apa yang disebut karya sastra yang baik” untuk suatu zaman dan suatu tempat. Dengan demikian, batasan sastra yang baik bagi kaum Pujangga Baru, belum tentu baik buat kaum ekspresionis Angkatan 45. (Sumardjo &amp; Saini K. M., 1994: 1-2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Meskipun demikian, batasan-batasan sastra tetap bermunculan sepanjang zaman. Ada yang menyatakan bahwa sastra adalah seni bahasa. Sastra adalah ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam. Sastra adalah ekspresi pikiran dalam bahasa. Sastra adalah inspirasi kehidupan yang disajikan dalam bentuk keindahan. Dan ada juga yang mengatakan bahwa sastra adalah semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang mendalam dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan, dan bentuk yang mempesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dari beberapa batasan tersebut, ternyata dapat disimpulkan bahwa terdapat empat unsur batasan yang selalu disebut. Keempat unsur ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.	Unsur isi, yaitu berupa pikiran, perasaan, pengalaman, ide-ide, semangat, keyakinan, dan kepercayaan.&lt;br /&gt;2.	Unsur ekspresi atau ungkapan, yaitu upaya mengeluarkan sesuatu dari dalam diri manusia.&lt;br /&gt;3.	Unsur bentuk, yaitu wujud pengekspresian unsur isi, misal dalam bentuk bahasa, gerak, warna, suara, atau bunyi-bunyian yang dapat berupa seni sastra, seni tari, seni rupa, seni bangunan, seni musik, dan sebagainya.&lt;br /&gt;4.	Unsur bahasa, yaitu ciri khas pengungkapan bentuk dalam sastra karena berperan sebagai bahan utama untuk mewujudkan ungkapan pribadi dalam suatu bentuk yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Bertolak dari keempat unsur batasan tersebut, sastra dapat diartikan sebagai “ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa.” (Sumardjo &amp; Saini K. M., 1994: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Untuk menambah pemahaman tentang pengertian sastra, sebaiknya dikaji beberapa pendapat berikut:&lt;br /&gt;1.	Secara etimologis,&lt;br /&gt;Sastra berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti buku. Kata sastra ini selanjutnya mendapat imbuhan su- dari Bahasa Jawa yang berarti baik. Sehingga susastra mempunyai arti buku yang baik. Dan kata susastra ini mendapat imbuhan ke-an menjadi kesusastraan yang berarti buku atau tulisan yang baik.&lt;br /&gt;2.	Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Sastra adalah karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan, dalam isi dan ungkapan.&lt;br /&gt;3.	Menurut Ayip Rosidi&lt;br /&gt;Sastra atau kesusastraan adalah suatu karya berupa hikayat, syair, pantun, dan karya lainnya yang indah-indah.&lt;br /&gt;4.	Menurut Ibrahim&lt;br /&gt;Sastra atau kesusastraan adalah hasil seni yang merupakan hasil cipta manusia yang mengekspresikan pikiran, gagasan, pemahaman, tanggapan, perasaan, penciptaan, tentang kehidupan dengan bahasa yang imajinatif dan emosional.&lt;br /&gt;5.	Menurut Liberatus Tengsoe Tjahjono&lt;br /&gt;Sastra dapat dikatakan sebagai ungkapan rasa estetis manusia dengan memakai bahasa indah sebagai alat ekspresinya.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;1.2	Jenis-jenis Sastra&lt;br /&gt;	Sebagai karya seni, sastra dapat dibedakan menjadi karya sastra dan bukan karya sastra. Perbedaan ini lebih didasari oleh sifat khayali sastra, adanya nilai-nilai seni, dan adanya cara penggunaan bahasa secara khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Namun kenyataan menunjukkan bahwa ketiga hal tersebut memiliki bobot dan nuansa yang berbeda antara satu jenis sastra dengan karya sastra lainnya. Ciri karya sastra yang menuntut adanya nilai-nilai seni, dapat dikatakan tidak ada masalah, karena semua karya sastra harus memiliki nilai estetik atau seni. Sedangkan dua hal lain, yakni sifat khayali dan penggunaan bahasa memiliki perbedaan mencolok yang mengakibatkan perlu adanya dua penggolongan jenis saastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Penggolongan jenis sastra ini oleh Jakob Sumardjo dan Saini K. M. dalam Apresiasi Kesusastraan digolongkan menjadi “sastra imajinatif dan sastra non-imajinatif” (Sumardjo &amp; Saini K. M., 1994: 17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kedua jenis sastra itu terbagi lagi menjadi beberapa bagian. Sastra imajinatif dikelompokkan menjadi puisi dan prosa. Puisi terbagi menjadi epik, lirik, dan dramatik. Dan prosa dikelompokkan menjadi fiksi dan drama. Prosa fiksi dikelompokkan menjadi novel, cerita pendek, dan novelet. Drama dikelompokkan menjadi drama prosa dan drama puisi. Selanjutnya kedua jenis drama ini dapat berupa drama komedi, tragedi, melodrama, atau pun tragedi-komedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Sedangkan sastra non-imajinatif dikelompokkan menjadi esei, kritik, biografi, otobiografi, sejarah, memoar, catatan harian, dan surat-surat.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;	Jenis atau genre sastra yang terbagi menjadi sastra imajinatif dan non-imajinatif tersebut dapat dibedakan berdasarkan ciri-cirinya. Adapun perbedaan kedua jenis sastra itu adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;Sastra Imajinatif:	&lt;br /&gt;1.	Memenuhi estetika seni (unity, balance, harmony, dan right emphasis).&lt;br /&gt;2.	Cenderung khayali.&lt;br /&gt;3.	Bahasa cenderung konotatif.&lt;br /&gt;Sastra non-imajinatif:&lt;br /&gt;1.	Memenuhi estetika seni (unity, balance, harmony, dan right emphasis).&lt;br /&gt;2.	Cenderung mengemukakan fakta.&lt;br /&gt;3.	Bahasa cenderung denotatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3	Ciri-ciri Bahasa Sastra&lt;br /&gt;	Salah satu perbedaan wacana ilmiah dan sastra terletak dalam penggunaan ragam bahasa. Ragam bahasa sastra memiliki kekhasan tersendiri. Kekhasan yang merupakan ciri-ciri bahasa sastra ada tiga, yaitu:&lt;br /&gt;1.	Bersifat konotatif&lt;br /&gt;Bahasa ilmiah bersifat denotatif, artinya mengacu pada satu pengertian belaka. Sedangkan bahasa saastra bersifat konotatif, artinya kata-kata yang digunakan memiliki pengertian tambahan atau arti sekunder di samping arti primernya.&lt;br /&gt;2.	Bersifat multi-interpretabel&lt;br /&gt;Multi-interpretabel berarti melahirkan penafsiran ganda pada diri pembacanya. Penafsiran ganda ini dilatarbelakangi oleh sifat konotatif bahasa sastra dan keragaman pengalaman pembacanya.&lt;br /&gt;3.	Memperhatikan efek musikalitas&lt;br /&gt;Efek musikalitas adalah efek suara atau bunyi yang mampu membangkitkan rasa merdu. Kemerduan bunyi bahasa dalam sastra dapat dimunculkan melalui pola persajakan/rima, perulangan bunyi yang sama, kalimat yang berimbang, variasi bangun dan pola kalimat, dan panjang-pendeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4	Manfaat Membaca Sastra&lt;br /&gt;	Membaca sebagai salah satu upaya untuk memahami karya sastra merupakan suatu istilah yang mencakup pengertian yang sangat luas, karena membaca dapat dibedakan dalam berbagai ragam sesuai dengan tujuan, proses kegiatan, objek bacaan, dan media yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dengan demikian, setidak-tidaknya dapat disebutkan tiga pengertian membaca yang bertolak pada hakikat dari membaca itu sendiri, yaitu membaca adalah mereaksi, membaca adalah proses, dan membaca adalah pemecahan kode dan penerimaan kode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Pengertian pertama, membaca adalah mereaksi. Artinya, membaca merupakan kegiatan memberikan reaksi terhadap berbagai rangkaian huruf yang disajikan sebagai representasi bunyi ujar maupun tanda penulisan lain. Kegiatan mereaksi ini diawali dengan pengamatan huruf dan tanda penulisan yang dilanjutkan dengan kegiatan rekognisi, yaitu pengenalan dan pemahaman huruf dan tanda penulisan yang berkaitan dengan makna bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Pengertian kedua, membaca adalah proses. Artinya, membaca merupakan kegiatan yang cukup kompleks, karena melibatkan berbagai aspek, baik fisik, mental, bekal pengalaman dan pengetahuan, maupun aktivitas berpikir dan merasa yang terproses untuk mencapai tujuan tertentu melalui berbagai tahapan, yaitu persepsi, rekognisi, komprehensi, interpretasi, evaluasi, dan kreasi atau utilisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Pada tahap persepsi, terjadi kegiatan mengamati bentuk penulisan atau tanda dalam teks. Pada tahap rekognisi, terjadi kegiatan memahami hubungan antara bentuk penulisan dengan makna. Pada tahap komprehensi, terjadi kegiatan memahami makna kata, kalimat, dan paragraf, serta relasi setiap makna untuk membangun suatu kesatuan. Pada tahap interpretasi, terjadi kegiatan mendalami pemahaman yang diperoleh melalui kegiatan komprehensi yang relatif masih tersurat pada proses analisis untuk menyusun suatu kesimpulan. Pada tahap evaluasi, terjadi kegiatan memilih satuan-satuan gagasan yang memadai maupun tidak memadai sesuai dengan tujuan yang akan menghasilkan pemberian kriteria. Dan pada tahap kreasi atau utilisasi, terjadi pengolahan pengetahuan yang diperoleh melalui bacaan untuk mencapai kreasi atau tujuan-tujuan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan pengertian ketriga, membaca adalah pemecahan kode dan penerimaan pesan. Artinya, terjadi kegiatan pemecaham kode dan penerimaan pesan yang dilakukan pembaca sebagai penerima pesan (receiver) dari kode dan pesan yang ditulis pengarang sebagai pengirim pesan (sender).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Bertolak pada ketiga pengertian membaca tersebut, Aminuddin dalam Pengantar Apresiasi Kaerya Sastra menjelaskan bahwa membaca karya sastra memiliki manfaat;&lt;br /&gt;1.	sebagai pengisi waktu luang,&lt;br /&gt;2.	untuk pemerolehan hiburan,&lt;br /&gt;3.	untuk mendapatkan informasi,&lt;br /&gt;4.	sebagai media pengembang dan pemerkaya pandangan kehidupan, dan&lt;br /&gt;5.	dapat memberikan pengetahuan nilai sosio-kultural. (Aminuddin, 1995: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Berbagai manfaat membaca karya sastra yang salah satunya diungkapkan Amiduddin tersebut, sebenarnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu manfaat secara umum dan manfaat secara khusus. Pengklasifikasian ini didasari oleh keragaman masyarakat pembaca karya sastra. Keragaman masrakat inilah yang mengakibatkan munculnya keragaman dalam kegiatan mengapresiasi karya sastra. Dan keragaman kegiatan mengapresiasi karya sastra ini pula yang menimbulkan berbagai tingkatan manfaat setelah membaca karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.1	Manfaat secara Umum&lt;br /&gt;	Manfaat membaca karya sastra secara umum merupakan manfaat membaca karya sastra yang diperoleh oleh pembaca pada umunya. Manfaat membaca ini diperoleh melalui kegiatan generalisasi, yaitu kegiatan yang merupakan pembentukan kesimpulan umum dari suatu kejadian atau suatu hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Jadi kegiatan membaca karya sastra pada masyarakat umumnya dilakukan sekedar membaca, bukan melakukan apresiasi sebagaimana pengapresiasian karya sastra pada umumnya. Dan kegiatan membacanya pun melahirkan kegiatan mengapresiasi yang mudah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dengan demikian, kegiatan membaca sebagian besar masyarakat hanya dilakukan melalui generalisasi, tanpa apresiasi sebenarnya. Kegiatan membaca melalui generalisasi tanpa apresiasi sebenarnya ini, melahirkan manfaat membaca karya sastra secara umum yang biasanya hanya untuk;&lt;br /&gt;1.	pengisi waktu luang, dan&lt;br /&gt;2.	mendapatkan hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.1.1	Sebagai Pengisi Waktu Luang&lt;br /&gt;	Manfaat membaca kaeya sastra secara umum yang pertama adalah sebagai pengisi waktu luang. Manfaat ini diperoleh sebagian besar masyarakat pembaca karya sastra. Manfaat ini biasanya diperoleh cukup melalui kegiatan generalisasi. Kegiatan generalisasi ini hanya akan melahirkan sebuah kesimpulan umum tentang suatu kejadian atau hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Dan kesimpulan umum ini biasanya akan mudah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Hal itu terjadi karena kegiatan membaca yang dilakukan merupakan aktivitas secara santai, misalnya sambil menanti seseorang atau sesuatu yang tak kunjung datang. Atau sebagai penghibur rasa kantuk ketika berjaga. Atau kadangkala karena memang tidak ada pekerjaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Membaca karya sastra dengan cara seperti itu menunjukkan bahwa pembaca tidak berada dalam situasi dan kondisi yang bersungguh-sungguh, tidak serius, dan tidak konsentratif. Sehingga nilai apresiatifnya pun tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dalam kondisi seperti itu, pembaca cukup merasa puas bila seseorang atau sesuatu yang tak kunjung datang ternyata telah berada di hadapannya. Atau rasa kantuk ketika berjaga hilang. Atau terpenuhinya kesibukan karena tidak ada pekerjaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.1.2	Untuk Memperoleh hiburan&lt;br /&gt;	Manfaat membaca karya sastra secara umum yang kedua adalah untuk memperoleh hiburan. Manfaat ini pun diperoleh sebagian besar masyarakat pembaca karya sastra. Manfaat ini pun biasanya diperoleh cukup melalui kegiatan generalisasi. Kegiatan gebneralisasi ini hanya akan melahirkan sebuah kesimpulan umum tentang suatu kejadian atau hal yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Dan kesimpulan umum ini biasanya akan mudah hilang juga. Pembaca cukup puas bila mengetahui jalan ceritanya dan akhir dari rangkaian kehidupan para tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Sampai saat ini masih cukup banyak remaja yang senang membaca novel, komik, atau cerita silat karya Asmaraman Kho Ping Ho. Seringkali kita jumpai di sekolah pun secara sembunyi-sembunyi mereka membawa buku-buku semacam itu untuk dibacanya. Dan mereka berkilah karena hobi. Padahal sebenarnya semua itu didorong oleh rasa untuk memperoleh hiburan melalui aktivitas membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Karena tujuannya hanya untuk memperoleh hiburan, maka nilai apresiasinya pun kurang. Mereka tidak berusaha mencerna secara mendalam, mereka telah cukup puas bila telah mengetahui jalan ceritanya dan akhir dari rangkaian kehidupan para tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2	Manfaat secara Khusus&lt;br /&gt;	Sebagaimana telah diuraikan pada bagian terdahulu, manfaat membaca karya sastra secara umum dapat diperoleh cukup melalui kegiatan generalisasi. Dan melalui kegiatan geberalisasi ini, manfaat yang dirasakan pembaca karya sastra hanya berkisar sebagai pengisi waktu luang dan untuk memperoleh hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Padahal bila ditinjau dari kompleksitas aspek yang terkandung dalam suatu karya sastra, membaca karya sastra harus memperhatikan tiga elemen yang oleh Olsen diistilahkan dengan aesthetic properties, aesthetic dimension, dan aesthetic object.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Aesthetic properties berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik suatu karya sastra. Aesthetic dimension berhubungan dengan dimensi keindahan yang terkandung oleh suatu karya sastra. Dan aesthetic object berhubungan dengan kemampuan karya sastra untuk dijadikan objek kegiatan manusia dengan keanekaragaman tujuan yang ingin dicapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Bertolak pada pendapat Olsen tersebut, dapat disimpulkan bahwa karya sastra pada dasarnya mampu memberikan manfaat yang lebih bernilai daripada sekedar pengisi waktu luang dan pemberi hiburan. Manfaat ini merupakan manfaat membaca karya sastra bukan secara umum, tetapi merupakan manfaat membaca karya sastra secara khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa membaca karya sastra memiliki beberapa manfaat secara khusus. Beberapa manfaat membaca karya saastra secara khusus ini antara lain adalah;&lt;br /&gt;1.	untuk mendapatkan informasi,&lt;br /&gt;2.	sebagai media pengembang dan pemerkaya pandangan kehidupan, dan&lt;br /&gt;3.	untuk memberikan pengetahuan nilai sosio-kultural dari zaman atau masa karya sastra itu dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2.1	Untuk Mendapatkan Informasi&lt;br /&gt;	Berbeda dengan kedua manfaat membaca karya sastra secara umum yang sekedar pengisi waktu luang dan pemberi hiburan, manfaat membaca karya sastra secara khusus yang berfungsi untuk mendapatkan informasi ini diperoleh tidak sekedar melalui generalisasi, akan tetapi diperoleh melalui tahapan apresiasi terhadap karya sastra itu sendiri. Sebagai ilustrasi, mari kita simak kutipan cerpen berikut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                 HATI YANG HAMPA&lt;br /&gt;		&lt;br /&gt;	Waktu makan di restoran Padma bercerita dengan gembira tentang film Prancis terkahir, sebuah film kartun mirip-mirip ceriota Tarzan berjudul Tarzoon, tetapi porno dan amat lucu. Kau harus lihat katanya, kalau kau mau mari aku temani menontonnya, sungguh lucu. Dia bercerita tentang heboh perebutan warisan Picasso berupa ratusan lukisan Picasso, dia bercerita tentang perpolitikan Prancis… ah, Giscard d’Estaing tidfak akan terpilih lagi… orang Prancis bosan dengan dia. Ada ruginya juga, kau tahu, membuat jabatan seorang presiden sampai tujuh tahun seperti di sini, terlalu lama, rakyat jadi bosan, dan ingin melihat wajah baru sebagai presiden mereka di televisi. Masyarakat Prancis ingin melihat perubahan. Perpolitikan Prancis akan bergerak ke kiri, lihat saja, dan jika pergeseran ini cukup besar, maka dia akan mempengaruhi perpolitikan di Eropa Barat.&lt;br /&gt;		&lt;br /&gt;	Tapi di apartemennya, dia mengajak naik. Mari minum kopi sebelum kau kembali ke hotel, ajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Setelah minum kopi, dan ketika saya berdiri hendak pamitan, dan aku memeluknya, dan mencium pipinya selamat malam, dan aku berjanji akan meneleponnya tentang pergi tidaknya menonton film kartun porno Prancis, dan ketika akan pergi aku berkata padanya dengan suara lembut, “Padma aku dapat menolongmu dengan sesuatu?”&lt;br /&gt;		&lt;br /&gt;	“Mengapa Padma, aku dan kawan-kawan di Indonesia menyangka kalian berdua selama ini amat bahagia. Kami sangat terkejut mendengar kalian bercerai. Kelihatannya Jacques begitu cinta padamu….”&lt;br /&gt;	(Mochtar Lubis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Setelah membaca kutipan cerpen Hati yang Hampa karya Mochtar Lubis tersebut, adakah informasi yang kita peroleh? Dan informasi apa saja yang kita peroleh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2.2	Sebagai Media Pengembang dan Pemerkaya Pandangan Kehidupan&lt;br /&gt;	Cerpen Hati yang Hampa karya Mochtar Lubis tersebut, menceritakan seorang tokoh bernama Padma. Sebagai seorang gadis tiba-tiba saja Padma terlibat cinta dengan seorang wartawan perang Prancis, Jacques. Dalam liku-liku cinta mereka, ternyata orang tua Padma tak merstui perkawinan mereka. Dengan nekad Padma mengikuti Jacques ke Prancis. Di sana ternyata hidup mereka tidaklah bahagia. Sebagai gadis Indonesia, Padma kaget juga melihat kehidupan di Prancis, apalagi etika Jacques secara terang-terangan memperkenalkan teman-teman wanitanya kepada Padma. Kemarahan Padma meledak ketika terang-terangan suaminya berpacaran dengan seorang lelaki. Mereka lantas bercerai. Dan ketika Mochtar Lubis menanyakan kepa Padma tak pulang saja ke Indonesia, Padma menjawab: “Tak mingkin, dan kembali pada orang tuaku, dan mengakui mereka benar? Aku kan punya kebanggaan diri, martabatku sendiri? Bukan sikapku benbar? Katakan, bagaimana pendapatmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Banyak pelajaran kehidupan kita peroleh dari cerpen Mochtar Lubis itu. Padma sebagai putri Indonesia ternyata tidak mudah untuk mengidentifikasi diri dengan suasana dan tuntutan budaya bangsa lain. Dalam proses akulturasi pun sebenarnya masih diperlukan proses yang teramat panjang untuk sampai pada bentuk kesadaran berbudaya. Padma merasa tersinggung ketika suaminya berpacaran dengan perempuan lain, padahal sesungguhnya di Prancis hal seperti itu sudah lumrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Di sisi lain, kita melihat betapa keras kepalanya Padma, sehingga tak bersedia pulang ke Indonesia, khawatir kebanggaan dirinya hilang karena dipersalahkan orang tuanya. Andaikan anda sebagai Padma, apa yang akan Anda perbuat? Pulang ke Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2.3	Memberikan Pengetahuan Nilai Sosio-kultural&lt;br /&gt;	Pengetahuan nilai sosio-kultural ini dapat kita peroleh setelah membaca karya sastra. Misalnya, dengan membaca cerpen Hati yang Hampa karya Mochtar Lubis tersebut, kita dapat memperoleh pengetahuan tentang nilai sosio-kultural Prancis saat itu. Padma seorang wanita Indonesia yang telah lama tinggal di Paris itu lama-lama terpengaruh oleh kultural Prancis. Tidak mengherankan bila ucapan selamat malamnya berupa pelukan dan ciuman. Andaikan aktivitas itu dilakukan di Indonesia, lebih-lebih dengan lelaki lain yang bukan suaminya, pacarnya, atau saudaranya, bisa menjadi masalah panjang, kalau tidak dikatakan tak bermoral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Betapa mudahnya Padma mengajak Mochtar Lubis untuk naik ke apartemennya, dan menawarkan diri untuk menemani Mochtar menonton film kartun porno. Di Indonesia wanita bertindak sebagai subjek pengambil inisiatif sangat jarang kita jumpai. Wanita harus menunggu, tidak pada tempatnya bila seorang wanita menawarkan diri untuk menemani seorang pria. Tapi ibarat kata pepatah, “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” dan Paris bukanlah sebuah kota di Indonesia, mungkin hal itu wajar saja terjadi di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-8699754348069323237?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/8699754348069323237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/sastra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/8699754348069323237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/8699754348069323237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/sastra.html' title='Sastra'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-6067764538852698586</id><published>2010-03-16T06:28:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T06:32:04.777-07:00</updated><title type='text'>Sertifikasi, Hak atau Penghargaan</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen disahkan pada tanggal 30 Desember 2005. Sejak saat itu guru TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK/MAK dipaksa memiliki kualifikasi akademik minimal D-IV atau S-1. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Untuk memenuhi kualifikasi akademik tersebut, mereka rela mengalokasikan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit guna melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi. Namun, ketika mereka masih mengikuti perkuliahan dan beberapa di antaranya telah mengantongi ijazah sarjana, mereka dikagetkan dengan mekanisme rekruitmen calon peserta sertifikasi guru dalam jabatan yang tercantum dalam Bab VIII Pasal 66 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru yang menyebutkan bahwa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak berlakunya Peraturan Pemerintah ini, guru dalam jabatan yang belum memenuhi kualifikasi akademik S-1 atau D-IV, dapat mengikuti uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik apabila sudah:&lt;br /&gt;a.	mencapai usia 50 (lima puluh) tahun dan mempunyai pengalaman kerja 20 (dua puluh) tahun sebagai guru; atau&lt;br /&gt;b.	mempunyai golongan IV/a, atau yang memenuhi angka kredit kumulatif setara dengan golongan IV/a.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;	Kekagetan itu semakin bertambah ketika dasar pemilihan calon peserta sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2009 ternyata lebih memprioritaskan senioritas yang ditunjukkan oleh masa kerja dan usia sebagaimana tercantum dalam pasal 66 tersebut, bukan berdasarkan kinerja dan kualifikasi akademik yang mempersyaratkan setidak-tidaknya D-IV atau S-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Kondisi tersebut melahirkan suatu permasalahan, sebenarnya sertifikasi itu hak atau penghargaan? Permasalahan ini dapat dijawab secara cepat, cukup dengan mencermati mekanisme rekruitmen calon peserta sertifikasi sampai saat ini. Apalagi bila mencermati rekruitmen calon peserta sertifikasi tahun 2009 yang lebih memprioritaskan masa kerja dan usia, dari pada kinerja dan kualifikasi akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan hasil pencermatan terhadap mekanisme rekruitmen calon peserta sertifikasi, permasalahan tersebut dapat dijawab bahwa sertifikasi itu lebih merupakan hak dari pada penghargaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan jika mekanisme rekruitmen calon peserta sertifikasi tetap demikian, maka animo guru untuk meningkatkan kualifikasi akademik akan turun. Penurunan animo ini lebih didasari suatu persepsi bahwa tanpa mengantongi ijazah sarjana pun, lambat-laun mereka akan diikutsertakan sebagai calon peserta sertifikasi seiring dengan bertambahnya masa kerja dan usia. Jadi untuk apa mengeluarkan biaya banyak untuk melanjutkan kuliah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Oleh karena itu, agar animo guru untuk meningkatkan kualifikasi akademik tetap terjaga, sebaiknya mekanisme rekruitmen calon peserta sertifikasi guru dalam jabatan harus menjadikan kualifikasi akademik minimal D-IV atau S-1 sebagai syarat pertama. Dan syarat berikutnya bukan masa kerja atau pun usia, akan tetapi kinerja dan prestasi kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dengan demikian, melalui tulisan ini penulis menyampaikan rekomendasi kepada pengambil kebijakan yang mengatur mekanisme rekruitmen calon peserta sertifikasi guru dalam jabatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.	aktualkan data kualifikasi akademik guru yang telah mengantongi ijazah minimal sarjana atau diploma empat;&lt;br /&gt;2.	jadikan data tersebut sebagai syarat pertama;&lt;br /&gt;3.	adakan penilaian kinerja guru melalui berbagai bentuk tes dan pengamatan secara transparan dan berkesinambungan;&lt;br /&gt;4.	jadikan hasil penilaian tersebut sebagai dasar utama dalam menentukan guru calon peserta sertifikasi;&lt;br /&gt;5.	beritahukan urutan calon peserta sertifikasi secara berjenjang dan transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Selain itu, demi konsistensi peningkatan kinerja dan prestasi guru dalam melaksanakan peningkatan mutu pendidikan, penulis pun menyampaikan rekomendasi kepada penjamin mutu pendidikan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.	lakukan pengawasan terhadap mekanisme rekruitmen calon peserta sertifikasi guru dalam jabatan;&lt;br /&gt;2.	lakukan pembinaan, penilaian, dan pengamatan terhadap kinerja guru, baik yang belum mengantongi sertifikat pendidik, dan terutama sekali bagi guru yang telah mengantongi sertifikat pendidik;&lt;br /&gt;3.	berikan sanksi terhadap guru penerima sertifikat pendidik yang terbukti melanggar kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Akhirnya, penulis hanya dapat berharap semoga sertifikasi bagi guru dalam jabatan yang dilaksanakan melalui porto folio ini, benar-benar dapat mendongkrak peningkatan mutu dan kualitas pendidikan sebagaimana yang diamanatkan undang-undang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Selanjunya kepada rekan-rekan yang belum berkesempatan mengikuti sertifikasi guru dalam jabatan, penulis mengajak untuk tetap meningkatkan kualifikasi akademik, menjaga profesionalitas jabatan guru, dan tetap berjuang untuk menciptakan peningkatan kualitas peserta didik melalui kinerja dan prestasi kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dan kepada rekan-rekan guru yang telah mengantongi sertifikat pendidik, jadikan sertifikat pendidik itu sebagai penghargaan atas kinerja dan prestasi kerja yang harus dipertahankan dan ditingkatkan, bukan sebagai hak yang diraih karena memiliki masa kerja dan usia lebih lama. Buktikan bahwa Anda benar-benar layak memiliki sertifikat itu!&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-6067764538852698586?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/6067764538852698586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/sertifikasi-hak-atau-penghargaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/6067764538852698586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/6067764538852698586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/sertifikasi-hak-atau-penghargaan.html' title='Sertifikasi, Hak atau Penghargaan'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6360465181524653031.post-9091785013523663169</id><published>2010-03-16T06:13:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T06:27:06.756-07:00</updated><title type='text'>Mencontek</title><content type='html'>Oleh Ade Heryawan, S.Pd.&lt;br /&gt;		&lt;br /&gt;	Mencontek merupakan kata berprefiks meN-. Kata ini memiliki makna “berbuat atau membuat sesuatu menurut contoh” (Depdikbud, 1996: 195). Kata ini sangat populer di kalangan pengguna bahasa yang sedang menempuh studi. Dan kata ini sering digantikan dengan kata “menyontek” seperti terlihat dalam tuturan “Kamu menyontek lembar jawabku, ya?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Tuturan tersebut merupakan segelintir ilustrasi dari tuturan pengguna bahasa untuk mengatakan, menyatakan, atau menanyakan kepada orang lain yang sedang, telah, atau selalu berbuat atau membuat sesuatu berdasarkan pekerjaan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan tuturan tersebut, muncullah permasalahan “Mencontek atau menyontekkah yang tepat digunakan?”. Untuk menjawab permasalahan itu, kita harus mempelajari kembali morfologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Morfologi sebagai cabang ilmu bahasa atau linguistik yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik, telah menjelaskan berbagai fungsi dan makna afiks, termasuk prefiks meN- di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Prefiks meN- merupakan afiks yang memiliki fungsi sebagai pembentuk kata nominal menjadi verbal melalui proses morfologik. Proses morfoligik di sini diartikan sebagai “proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya” (Ramlan, 1987: 51).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dalam bahasa Indonesia dikenal tiga proses morfologik, yaitu: proses pembubuhan afiks, proses pengulangan, dan proses pemajemukan. Proses pembubuhan afiks atau afiksasi merupakan proses pembentukan kata dengan membubuhkan bubuhan yang disebut afiks. Proses pengulangan atau reduplikasi merupakan proses pembentukan kata dengan pengulangan bentuk dasarnya. Sedangkan proses pemajemukan merupakan proses pembentukan kata dengan penggabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dari ketiga proses morfologik tersebut, proses pembubuhan afiks atau afiksasilah yang sangat berkaitan untuk menjawab permasalahan “Mencontek atau menyontekkah yang tepat digunakan?”. &lt;br /&gt;	M. Ramlan dalam Morfologi (Suatu Tinjauan Deskriftif) menjelaskan bahwa, “Proses pembubuhan afiks ialah pembubuhan afiks pada sesuatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata.” (Ramlan, 1987: 54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Proses pembubuhan afiks itu sangat berkaitan dengan proses morfofonemik, yaitu proses yang mempelajari perubahan-perubahan fonem sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Proses morfofonemik dalam bahasa Indonesia setidak-tidaknya dapat disebutkan ada tiga jenis, yaitu proses perubahan fonem, proses penambahan fonem, dan proses penghilangan fonem. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Proses morfofonemik yang secara langsung dapat menjawab permasalahan “Mencontek atau menyontekkah yang tepat digunakan?” adalah proses perubahan fonem. Hal ini sejalan dengan pendapat M. Ramlan dalam Morfologi (Suatu Tinjauan Deskriftif) yang menjelaskan bahwa;&lt;br /&gt;“Proses perubahan fonem, misalnya terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya. Fonem /N/ pada kedua morfem itu berubah menjadi /`m, n,  , ŋ/, hingga morfem meN- berubah menjadi mem-, men-, meny-, dan meng-, dan morfem peN- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, dan peng-. Perubahan-perubahan itu bergantung pada bentuk dasar yang mengikutinya.” (Ramlan, 1987: 84).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Mengingat proses perubahan fonem tersebut bergantung pada bentuk dasar yang mengikutinya, maka sebelum menjawab permasalahan “Mencontek atau menyontekkah yang tepat digunakan?”, sebaiknya dikaji dahulu beberapa kaidah perubahan fonem sebagai berikut.&lt;br /&gt;1.	Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /m/ bila bentuk dasar yang mengikutinya diawali fonem /p, b, f/. &lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;meN-	+	paksa	→	memaksa&lt;br /&gt;meN-	+	bantu	→	membantu&lt;br /&gt;meN-	+	fitnah	→	memfitnah&lt;br /&gt;peN-	+	paksa	→	pemaksa&lt;br /&gt;peN-	+	bantu	→	pembantu&lt;br /&gt;peN-	+	fitnah	→	pemfitnah&lt;br /&gt;2.	Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /n/ bila bentuk dasar yang mengikutinya diawali fonem /t, d, s/. &lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;meN-	+	tulis	→	menulis&lt;br /&gt;meN-	+	dapat	→	mendapat&lt;br /&gt;meN-	+	suplly	→	mensuplly&lt;br /&gt;peN-	+	tulis	→	penulis&lt;br /&gt;peN-	+	dapat	→	pendapat&lt;br /&gt;peN-	+	suplly	→	pensuplly&lt;br /&gt;3.	Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi / / bila bentuk dasar yang mengikutinya diawali fonem /s,  , c, j/. &lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;meN-	+	sapu	→	menyapu&lt;br /&gt;meN-	+	sangkal	→	menyangkal&lt;br /&gt;meN-	+	coba	→	mencoba&lt;br /&gt;meN-	+	jaga	→	menjaga&lt;br /&gt;peN-	+	sapu	→	penyapu&lt;br /&gt;peN-	+	sangkal	→	penyangkal&lt;br /&gt;peN-	+	coba	→	pencoba&lt;br /&gt;peN-	+	jaga	→	penjaga&lt;br /&gt;4.	Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /ŋ/ bila bentuk dasar yang mengikutinya diawali fonem /k, g, x, h, dan vokal/. &lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;meN-	+	kacau	→	mengacau&lt;br /&gt;meN-	+	garis	→	menggaris&lt;br /&gt;meN-	+	khianati	→	mengkhianati&lt;br /&gt;meN-	+	hias	→	menghias&lt;br /&gt;meN-	+	angkut	→	mengangkut&lt;br /&gt;meN-	+	emban	→	mengemban&lt;br /&gt;meN-	+	ikat	→	mengikat&lt;br /&gt;meN-	+	uji	→	menguji&lt;br /&gt;meN-	+	omel	→	mengomel&lt;br /&gt;peN-	+	kacau	→	pengacau&lt;br /&gt;peN-	+	garis	→	penggaris&lt;br /&gt;peN-	+	khianat	→	pengkhianat&lt;br /&gt;peN-	+	hias	→	penghias&lt;br /&gt;peN-	+	angkut	→	pengangkut&lt;br /&gt;peN-	+	emban	→	pengemban&lt;br /&gt;peN-	+	ikat	→	pengikat&lt;br /&gt;peN-	+	uji	→	penguji&lt;br /&gt;peN-	+	omel	→	pengomel&lt;br /&gt;Contoh lain:&lt;br /&gt;meN-	+	bom	→	mengebom&lt;br /&gt;meN-	+	cat	→	mengecat&lt;br /&gt;meN-	+	las	→	mengelas&lt;br /&gt;peN-	+	bom	→	pengebom&lt;br /&gt;peN-	+	cat	→	pengecat&lt;br /&gt;peN-	+	las	→	pengelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Berdasarkan keempat proses perubahan fonem dalam proses morfofonemik tersebut, dapat dijelaskan bahwa kata “mencontek” berasal dari proses pembubuhan afiks meN- pada bentuk dasar contek yang sesuai dengan kaidah ketiga dari kaidah perubahan fonem dalam proses morfofonemik yang menyebutkan bahwa, fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi / / bila bentuk dasar yang mengikutinya diawali fonem /s,  , c, j/. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Oleh karena itu, kata “mencontek” merupakan bentuk kata yang berasal dari proses perubahan morfem meN- menjadi / / bila bertemu dengan bentuk dasar yang diawali fonem /c/, seperti terlihat dalam deret morfologis berikut:&lt;br /&gt;meN-	+	contek	→	mencontek	bukan menjadi	menyontek&lt;br /&gt;meN-	+	cuci	→	mencuci	        bukan menjadi	menyuci&lt;br /&gt;meN-	+	coret	→	mencoret	bukan menjadi	menyoret&lt;br /&gt;meN-	+	cium	→	mencium	        bukan menjadi	menyium&lt;br /&gt;meN-	+	capai	→	mencapai	bukan menjadi	menyapai&lt;br /&gt;meN-	+	cari	→	mencari	        bukan menjadi	menyari&lt;br /&gt;meN-	+	coba	→	mencoba	        bukan menjadi	menyoba&lt;br /&gt;meN-	+	cabik	→	mencabik	bukan menjadi	menyabik&lt;br /&gt;meN-	+	cabut	→	mencabut	bukan menjadi	menyabut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Jadi jelaslah bahwa penggunaan kata “mencontek” yang sering diganti menjadi kata “menyontek” merupakan pemilihan kata yang salah karena tidak sesuai dengan kaidah proses morfofonemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Dengan demikian, bila kita dihadapkan pada permasalahan memilih bentuk kata berimbuhan yang benar, sebaiknya gunakanlah aneka kaidah yang berlaku dalam proses morfofonemik, kemudian buatlah deret morfologis yang relevan dengan bentuk kata tersebut. Selamat mencoba!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibliografi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chaer, Abdul. 1994. Lingistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.&lt;br /&gt;Depdikbud. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Depdiknas. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakaeta: Balai Pustaka.&lt;br /&gt;Parera, Jos Daniel. 1994. Morfologi Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.&lt;br /&gt;Ramlan, M. 1987. Morfologi (Suatu Tinjauan Deskriftif). Yogyakarta: CV Karyono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6360465181524653031-9091785013523663169?l=adeheryawan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://adeheryawan.blogspot.com/feeds/9091785013523663169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/mencontek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/9091785013523663169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6360465181524653031/posts/default/9091785013523663169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://adeheryawan.blogspot.com/2010/03/mencontek.html' title='Mencontek'/><author><name>Ade Heryawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12167801230919675782</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_hudvubMfRYU/SypDx_yhtDI/AAAAAAAAAAY/cXo9tFaXcQw/S220/Ade+CV.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
